Ilmuwan HIV terkemuka mengaku tak mau terlalu andalkan vaksin corona

Oleh Alessandra Galloni

(Reuters) - Seorang ilmuwan top AS mengatakan Rabu bahwa pemerintah seharusnya tak mengandalkan vaksin yang efektif melawan COVID-19 yang dikembangkan dalam waktu dekat ketika memutuskan apakah akan mengurangi pembatasan yang diberlakukan dalam mengendalikan pandemi.

William Haseltine, seorang peneliti terobosan proyek kanker, HIV/AIDS dan genom manusia, mengatakan pendekatan yang lebih baik saat ini adalah mengelola penyakit melalui penelusuran infeksi dan langkah-langkah isolasi yang ketat setiap kali mulai menyebar.

Sekalipun vaksin COVID-19 sudah tercipta, dia berkata, "Saya tidak akan mengandalkannya."

Vaksin yang dikembangkan sebelumnya untuk jenis virus corona lainnya gagal melindungi selaput lendir di hidung tempat virus biasanya memasuki tubuh, kata dia.

Bahkan tanpa pengobatan atau vaksin yang mujarab, virus dapat dikendalikan dengan mengidentifikasi infeksi, menemukan orang yang terpapar dan mengisolasi mereka, kata dia. Dia mendesak orang untuk memakai masker, mencuci tangan, membersihkan permukaan dan menjaga jarak.

Dia mengatakan China dan beberapa negara Asia lainnya berhasil menggunakan strategi itu, sementara Amerika Serikat dan negara-negara lain tidak melakukan cukup banyak untuk "mengisolasi paksa" semua orang yang terkena virus.

China, Korea Selatan, dan Taiwan telah melakukan yang terbaik dalam mengendalikan infeksi, kata dia, sedangkan Amerika Serikat, Rusia dan Brasil telah melakukan yang terburuk.

Tes pada hewan untuk vaksin COVID-19 eksperimental telah mampu mengurangi beban virus dalam organ-organ seperti paru-paru meskipun infeksi tetap ada, kata dia.

Untuk pengobatan, pasien telah mendapatkan plasma darah yang kaya antibodi yang disumbangkan oleh orang-orang yang pulih dari COVID-19, dan pembuat obat sedang bekerja memproduksi versi serum yang halus dan terkonsentrasi.

Dikenal sebagai globulin hiperimun, produk-produk itu adalah "di mana perawatan nyata pertama akan dilakukan," kata dia. Dia juga memprediksi keberhasilan pada penelitian antibodi monoklonal yang ditanamkan dan menetralkan kemampuan virus dalam memasuki sel tubuh manusia.


(Ditulis oleh Deena Beasley; Disunting oleh Howard Goller)