Ilmuwan Inggris Temukan Tata Surya Kuno

Merdeka.com - Merdeka.com - Peneliti astronomi dari University of Warwick mengumumkan penemuan terbaru mereka berupa tata surya kuno yang berbeda dengan tata surya saat ini pada Senin (7/11).

Dilansir dari Mashable, Selasa (15/11), minggu lalu para peneliti menuliskan dalam jurnal sains Monthly Notices of the Royal Astronomical Society bahwa mereka melihat bintang kerdil atau katai putih berusia lebih dari 10 miliar tahun, berupa inti panas yang tersisa dari bintang mati, dan dikelilingi puing-puing planet. Menurut laporan, temuan itu berjarak sekitar 90 tahun cahaya dari Bumi.

Namun, tata surya itu tidak seperti apa yang ada pada peradaban saat ini, melainkan penuh dengan unsur-unsur seperti lithium dan potasium. Sedangkan, tidak ada planet di tata surya kita yang memiliki komposisi seperti itu.

"Ini benar-benar misteri," kata Abbigail Elms, seorang mahasiswa PhD di University of Warwick yang meneliti katai putih, kepada Mashable.

Elms menyebutkan, tata surya ini sudah tua. Itu berarti katai putih (disebut WDJ2147-4035) serta tata surya sekitarnya terbentuk dan mati bahkan sebelum matahari dan Bumi lahir. Faktanya, Elms mengatakan bongkahan bekas planet di sekitar WDJ2147-4035 adalah planetesimal tertua yang pernah ditemukan di peradaban sekarang.

Mereka menemukan katai putih ini dan satu lagi yang berumur sama menggunakan sebuah observatorium di ruang angkasa yang disebut Gaia. Saat mengorbit matahari, pesawat ruang angkasa yang jauh ini memetakan bintang dan galaksi di kosmos. Setelah melihat katai putih tersebut, para peneliti kemudian beralih ke instrumen yang disebut "X-Shooter", yakni spektrometer yang terletak di ketinggian tinggi di Chili untuk mendeteksi apa yang ada dan tidak ada di atmosfer bintang.

Dalam WDJ2147-4035, mereka menemukan bahwa bahan kimia seperti lithium, kalium, dan natrium telah bertambah atau ditarik oleh gravitasi dan berkumpul di sekitar bintang mati. Para peneliti menyimpulkan bahwa katai putih terbuat dari hidrogen atau helium, sehingga sisa-sisa planet yang berbatu bertanggung jawab untuk memasok elemen unik lainnya.

Menariknya, katai putih lain (WDJ1922+0233) yang mereka temukan sangat berbeda dari yang satunya. Mereka menentukan bintang ini telah menarik puing-puing planet mirip dengan kerak bumi yang berbatu. Jadi, meskipun satu tata surya tetap merupakan anomali, yang lain menunjukkan bahwa Bumi tidak begitu unik di alam semesta: ada tata surya lain di luar sana yang agak mirip dengannya.

Reporter magang: Dinda Khansa Berlian [faz]