Ilmuwan petakan kemungkinan kehidupan di bulan Saturnus, Titan

Washington (Reuters) - Beberapa ilmuwan pada Senin (18/11) mengungkapkan peta geologi global perama mengenai bulan Saturnus, Titan, termasuk dataran rendah luas dan bukit pasir bahan organik beku dan danau metana cair, yang mencerahkan dunia yang eksotik yang dipandang sebagai calon kuat dalam penelitian buat kehidupan di luar Bumi.

Peta tersebut dilandasi atas radar, sinar infra-merah dan data lain yang dikumpulkan oleh pesawat antariksa NASA, Cassini, yang mempelajari Saturnus dan bulannya dari 2004 sampai 2017. Titan, dengan diameter 3.200 mil (5.150 kilometer), adalah bulan terbesar kedua dalam sistem tatasurya setelah Ganymede di Jupiter. Bulan itu lebih besar daripada Planet Merkuri.

Bahan organik lain --komposisi yang berlandaskan karbon yang penting untuk mendorong organisme hidup-- memainkan peran utama di Titan.

"Organik sangat penting buat kemungkinan kehidupan di Titan, yang banyak dari kita ingin kembangkan di dalam samudra air cair di bawah kerak Titan, yang mengandung es," kata ahli geologi planet Rosaly Lopes dari Jet Propulsion Laboratory di NASA di California.

"Bahan organik dapat, kami kira, menembus ke dalam samudra air cair dan ini dapat menyediakan nutrisi yang diperlukan buat kehidupan, jika itu berkembang di sana," tambah Rosaly Lopes, yang memimpin penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy.

Di Bumi, air hujan turun dari awan dan mengisi sungai, danau serta samudra. Di Titan, awan menyemburkan hidrokarbon seperti metana dan etana --gas di Bumi-- dalam bentuk cairan akibat cuaca dingin di bulan.

Hujan turun di mana-mana di Titan, tapi wilayah khatulistiwanya lebih kering daripada kutubnya, kata penulis bersama studi tersebut, Anezina Solomonidou, rekan peneliti Badan Antariksa Eropa.

Dataran rendah (yang mencakup 65 persen permukaannya) dan gunung pasir (yang mencakup 17 persen permukaannya) merupakan bagian metana beku dan hidrokarbon lain, masing-masing, mendominasi lintang-tengah Titan dan wilayah khatulistiwa.

Titan adalah satu-satunya benda sistem tatasurya selain Bumi yang memiliki cairan stabil di permukaannya, dengan danau dan lautan penuh metana --yang menjadi pola utama di wilayah kutubnya. Daerah pegunungan dan perbukitan, kendati merupakan bagian yang terpajan kerak es air di Titan, merupakan 14 persen permukaannya.

"Apa yang benar-benar lucu untuk dipikirkan ialah apakah ada cara bahwa organik yang lebih rumit ini dapat turun dan bercampur dengan air di kerak dalam yang mengandung es atau sub-permukaan dalam di samudra," kata ilmuwan JPL dan penulis bersama studi itu Michael Malaska.

Malasaka, yang bahwa di Bumi ada bakteri yang bisa bertahan hidup cuma dari hidrokarbon yang dinamakan acetylene dan air, bertanya, "Dapatkah itu atau sesuatu seperti itu hidup di kedalaman Titan di kerak atau samudra, tempat temperatur lebih hangat?"

Peta tersebut dibuat tujuh tahun sebelum badan antariksa AS dijadwalkan meluncurkan misinya, Dragonfly, untuk mengirim "drone" banyak rotor untuk mempelajari bahan kimia dan kecocokan Titan buat kehidupan. Dragonfly dijadwalkan untuk mencapai Titan pada 2034.

"Itu bukan hanya penting secara ilmiah tapi juga benar-benar keren --satu pesawat tanpa awak terbang mengelilingi Titan," kata Lopes. "Itu benar-benar menggairahkan."