Ilmuwan Singapura Temukan Cara Mempercepat Pembuatan Vaksin Virus Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti di Singapura tengah mengembangkan cara melacak perubahan genetika yang berpeluang mempercepat penemuan vaksin bagi virus Corona penyebab Covid-19. Virus yang awalnya berkembang di Wuhan, Tiongkok itu, telah pandemi global dan menewaskan 16.000 orang di seluruh dunia. 

Ilmuwan dari Duke-NUS Medical School, seperti dilansir dari Channel News Asia, mengatakan teknik itu hanya butuh beberapa hari untuk mengevaluasi potensi vaksin yang disediakan Arcturus Therapeutics, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat yang menjadi patner kerja mereka.

Pembuatan vaksin termasuk untuk virus Corona Covid-19 selama ini memang tidak bisa berlangsung cepat. Pasalnya, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melihat efektnya terhadap manusia.  

"Anda bisa tahu dari cara gen berubah - gen apa yang dihidupkan, apa yang dimatikan," kata Direktur program penyakit menular Duke-NUS Medical School, Ooi Eng Eong, belum lama ini. 

Dia menambahkan, perubahan genetik membuat ilmuwan lebih cepat mengetahui ekefektifitas dan efek sampingnya vaksin ketimbang menunggu harus respons yang dirasakan oleh manusia. 

 

Segera Diuji Coba

Pekerja medis memberikan perawatan kepada pasien virus corona atau COVID-19 di sebuah rumah sakit di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Minggu (16/2/2020). Hingga saat ini terkonfirmasi 70.548 orang terinfeksi virus corona di China Daratan. (Chinatopix via AP)

Virus Corona Covid-19 hingga saat ini telah menyebar hingga ke lebih dari 150 negara. Data yang dilansir John Hopkins University per tanggal 24 Maret 2020, pukul 17.00 WIB mencatat, jumlah pasien di seluruh dunia sudah mencapai 383.944 orang dengan korban meninggal sebanyak 16.595 jiwa. 

Sejauh ini belum ada vaksin maupun obat yang direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk mengatasi infeksi virus Corona Covid-19. Sebagian besar pasien yang dirawat hanya mendapat pertolongan dan bantuan medis untuk meredakan gejala-gajala yang muncul, termasuk sesak nafas.  

Sementara itu, perusahaan farmasi di seluruh dunia tengah mati-matian membuat vaksin Covid-19. Upaya lainnya dengan mengembangkan obat antivirus remdesivir seperti yang dilakukan  Gilead Sciences Inc dan terapi plasma ala perusahaan farmasi Jepang, Takeda Pharmaceutical Co.

Ooi menambahkan, pihaknya akan menguji vaksin tersebut kepada tikus dalam waktu sekitar satu minggu. Sementara uji coba kepada manusia diperkirakan dilakukan pada paruh kedua tahun ini.

 

 

Gerak Cepat Ilmuwan Singapura

Seorang wanita duduk di Marina Bay di Singapura pada 6 Maret 2020. Tempat-tempat wisata utama di Singapura sepi dari turis di tengah epidemi virus corona COVID-19. (Xinhua/Then Chih Wey)

Duke-NUS bergerak cepat dalam meneliti virus Corona Covid-19. Para ilmuwan segera membiakkan virus ini pada akhir Januari lalu atau beberapa hari setelah Singapura menemukan kasus pertamanya. 

Singapura pun menjadi negara ketiga di luar Tiongkok yang telah mengembangkan virus tersebut. Para peneliti Singapura juga yang pertama melakukan tes untuk mendeteksi antibodi termasuk bagi mereka yang sudah sembuh. Metodek ini belakangan dianggap sebagai bagian penting dalam menghambat penyembaran virus Corona Covid-19 di Singapura yang kini telah mendapat pengakua dunia.  

Selama ini, pembuatan vaksin membutuhkan waktu hingga 10 tahun, mulai dari penemuan, perizinan, hingga pengembangan. Namun menurut Ooi, sains kini dapat menawarkan hasil yang jauh lebih cepat. 

"Semua orang berlomba ke depan, tapi kami seperti menulis buku dari permainan yang tengah dimainkan," katanya.