Ilmuwan Temukan Mamalia Tertua di Bumi yang Hidup 225 Juta Tahun Lalu

Merdeka.com - Merdeka.com - Tim ilmuwan asal Inggris dan Brasil berhasil menemukan mamalia tertua di dunia berdasarkan catatan gigi fosil hewan itu. Temuan baru ini menggantikan mamalia tertua di dunia yang dipercaya hidup sekitar 205 juta tahun lalu.

Dikutip dari laman CNN, Selasa (6/9), fosil mamalia tertua itu bernama Brasilodon quadrangularis, hewan yang mirip tikus dengan panjang sekitar 20 sentimeter dan hidup sekitar 225 juta tahun lalu.

Untuk mengetahui apakah fosil itu mamalia atau bukan, tim ilmuwan meneliti jaringan keras fosil, seperti tulang dan gigi karena kelenjar mamalia yang menghasilkan susu hingga kini belum pernah ditemukan.

Sebelumnya, mamalia tertua yang berhasil diidentifikasi adalah Morganucodon, mamalia yang mirip tikus atau musang dan hidup sekitar 205 juta tahun lalu.

Namun, temuan baru yang dipublikasi pada Journal of Anatomy kemarin berhasil menempatkan Brasilodon quadrangularis sebagai mamalia tertua menggantikan Morganucodon.

Dalam jurnal itu, tim ilmuwan yang berasal dari Museum Sejarah Alam di London, King's College London dan Universitas Federal Rio Grande do Sul Porto Alegre mengungkapkan Brasilodon quadrangularis hidup sekitar 225 juta tahun lalu, tepatnya 25 juta tahun setelah 90 persen hewan di laut dan 70 persen hewan di darat mati yang dikenal dengan peristiwa kepunahan massal Permian-Triassic.

Martha Richter, rekan ilmiah museum sejarah alam dan penulis senior makalah itu mengatakan kepada CNN, “Brasilodon quadrangularis sebelumnya diyakini sebagai 'reptil tingkat lanjut'", tetapi pemeriksaan giginya menunjukkan "secara pasti" bahwa itu adalah mamalia”.

"Jika Anda berpikir tentang reptil, mereka memiliki banyak, banyak gigi pengganti yang berbeda sepanjang hidup mereka, tetapi kita mamalia hanya memiliki dua. Pertama, gigi susu dan kemudian gigi kedua yang menggantikan gigi asli. Inilah yang mendefinisikan mamalia" jelas Richter .

Tim ilmuwan yakin temuan yang signifikan itu akan membuka pemahaman baru akan evolusi mamalia modern.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]