Ilmuwan Temukan Mimpi Buruk Bisa Diredam dengan Alunan Piano

Merdeka.com - Merdeka.com - Ternyata mimpi buruk bisa dicegah dengan paduan nada dari piano. Ini merupakan temuan baru para ilmuwan yang meneliti 36 pasien penderita gangguan mimpi buruk.

Para peneliti menggunakan kombinasi dua terapi ringan untuk mengurangi frekuensi mimpi buruk para pasien.

Para sukarelawan yang terlibat dalam penelitian ini menuliskan ulang mimpi buruk yang paling sering mereka alami dan kemudian memutar suara berkaitan dengan pengalaman positif ketika mereka tidur.

"Ada kaitan antara jenis emosi yang dialami dalam mimpi dan kesehatan emosional kita," jelas psikiater Lampros Perogamvros dari Rumah Sakit Universitas Jenewa dan Universitas Jenewa di Swiss.

"Berdasarkan pengamatan ini, kami tahu bahwa kita bisa membantu orang dengan memanipulasi emosi dalam mimpi mereka. Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa kami bisa mengurangi jumlah mimpi yang sangat kuat secara emosional dan sangat negatif pada pasien yang menderita mimpi buruk," lanjutnya, dikutip dari laman Science Alert, Selasa (8/11).

Banyak orang mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk juga dikaitkan dengan kualitas tidur yang buruk, yang pada akhirnya dikaitkan dengan masalah kesehatan lainnya.

Kualitas tidur yang buruk juga bisa meningkatkan kecemasan, yang bisa menyebabkan insomnia dan mimpi buruk.

Metode non-invasif yang digunakan para peneliti merupakan terapi latihan citra, di mana pasien menulis ulang mimpi buruk paling sering dan mengerikan yang mereka alami agar mimpi itu bisa memiliki akhir yang bahagia. Lalu mereka akan mengutarakan apa yang mereka tulis. Metode ini bisa mengurangi frekuensi dan kengerian mimpi buruk, tapi cara ini tidak efektif untuk semua pasien.

Pada 2010 para ilmuwan menemukan bahwa memainkan suara yang telah dilatih untuk diasosiasikan dengan stimulus tertentu, saat orang tersebut sedang tidur, membantu meningkatkan memori stimulus tersebut. Ini reaktivasi memori yang ditargetkan (TMR), dan Perogamvros dan rekan ingin mengetahui apakah itu dapat meningkatkan efektivitas terapi latihan citra (IRT).

Setelah peserta penelitian menyelesaikan buku harian tidur dan mimpi mereka selama dua minggu, mereka diberi satu sesi IRT. Setengah dari peserta sesi TMR, menciptakan hubungan antara versi positif dari mimpi buruk mereka dan suara.

Separuh lainnya berperan sebagai kelompok kontrol, membayangkan versi mimpi buruk yang tidak terlalu mengerikan tanpa terkena suara-suara positif.

Kedua kelompok menerima headphone tidur yang akan memainkan suara (akord piano C69) setiap 10 detik selama mereka tidur. Kelompok dievaluasi setelah dua minggu dan kemudian setelah tiga bulan tanpa pengobatan apapun.

Pada awal penelitian, kelompok kontrol memiliki rata-rata 2,58 mimpi buruk per minggu, dan kelompok TMR memiliki rata-rata 2,94 mimpi buruk mingguan. Pada akhir penelitian, kelompok kontrol mengalami mimpi buruk mingguan 1,02, sedangkan kelompok TMR turun menjadi hanya 0,19. Bahkan kelompok TMR melaporkan peningkatan mimpi indah.

Setelah tiga bulan, mimpi buruk sedikit meningkat pada kedua kelompok, masing-masing menjadi 1,48 dan 0,33 per minggu. Namun, menurut para peneliti itu masih merupakan pengurangan signifikan dalam frekuensi mimpi buruk.

"Kami mengamati penurunan cepat mimpi buruk, bersama dengan mimpi menjadi lebih positif secara emosional. Bagi kami, peneliti dan dokter, temuan ini sangat menjanjikan baik untuk studi pemrosesan emosional selama tidur dan untuk pengembangan terapi baru," jelas Perogamvros.

Penelitian tim ini diterbitkan dalam jurnal Current Biology. [pan]