Imbas COVID-19, Pertumbuhan Energi Terbarukan Dunia Jadi Lambat

Lutfi Dwi Puji Astuti, Wahyu Firmansyah

VIVA – Pertumbuhan global energi terbarukan akan melambat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun karena dampak pandemi virus corona atau COVID-19. Perlambatan akan cukup mengganggu tetapi tidak menghentikan kenaikan energi bersih.

Badan pengawas energi dunia telah memperingatkan bahwa pengembang akan membangun lebih sedikit pada proyek energi turbin angin dan tenaga surya tahun ini dibandingkan dengan catatan peluncuran energi terbarukan pada 2019.

Meski begitu menurut Badan Energi Internasional (IEA), pemulihan akan dimungkinkan pada tahun 2021. Jika, keputusan kritis pemerintah yang dibuat dalam beberapa bulan ke depan difokuskan untuk mendukung pemulihan ekonomi dari pandemi. 

Angka-angka baru dari IEA memperkirakan bahwa dunia akan meningkatkan kapasitas energi terbarukan sebesar 6 persen atau 167 giga watt pada tahun ini. Pertumbuhan diperkirakan 13 persen lebih kecil dari jumlah kapasitas baru yang dimulai pada 2019.

Perlambatan akan cenderung lebih parah di Eropa. IEA memperkirakan jumlah energi baru terbarukan yang diluncurkan tahun ini turun sepertiga dari tingkat pertumbuhan tahunan terendah sejak 1996.

"Negara-negara terus membangun turbin angin baru dan pembangkit listrik tenaga surya, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Pemerintah tidak boleh melupakan tugas penting untuk meningkatkan transisi energi bersih untuk memungkinkan kita keluar dari krisis di jalur yang aman dan berkelanjutan," kata direktur eksekutif IEA, Fatih Birol seperti yang dikutip dari The Guardian, Rabu, 20 Mei 2020.

Birol mengatakan ketahanan industri energi terbarukan tidak dapat diabaikan begitu saja. Ia juga memperingatkan pemerintah agar tidak mengekang pengeluaran energi bersih untuk menghadapi krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh COVID-19. 

“Penurunan berkelanjutan dalam biaya energi terbarukan saja tidak akan cukup untuk melindungi industri dari krisis saat ini. Dalam pandangan saya peran pemerintah lebih penting daripada sebelumnya, keputusan yang mereka buat dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting bagi masa depan pembangunan kapasitas energi baru terbarukan," katanya. 

Pemerintah Inggris telah berjanji untuk bergerak maju dengan lelang untuk kontrak subsidi energi terbarukan pada musim semi mendatang yang akan mencakup tawaran dari proyek -proyek tenaga angin dan surya di daratan untuk pertama kalinya sejak pemerintah mencabut blok dukungan keuangan yang diberlakukan empat tahun lalu.

"Banyak negara sekarang ragu-ragu, tetapi jika (skema dukungan) ditunda atau dibatalkan itu akan menjadi pukulan serius bagi pertumbuhan energi terbarukan, yang sangat kita butuhkan untuk memenuhi tujuan iklim kita," katanya. 

Industri energi terbarukan akan menjadi sumber energi paling tangguh melalui pandemi COVID-19, menurut data IEA mereka memprediksi bahwa dampak virus akan menghapuskan pertumbuhan permintaan bahan bakar fosil tahun ini.