Imbas Ledakan Beirut, Menteri Penerangan Lebanon Mundur

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Informasi Lebanon, Manal Abdel Samad mengumumkan pengunduran dirinya dari pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Hassan Diab, Minggu, 9 Agustus 2020. Pengunduran diri Manal terkait dengan krisis yang melanda Lebanon di tengah dampak ledakan besar di pelabuhan Beirut pekan lalu.

"Saya minta maaf kepada Lebanon yang tidak dapat memenuhi aspirasi mereka," kata Menteri Penerangan Lebanon Manal Abdel Samad dalam konferensi pers singkat dilansir Sky News Arabia.

"Saya menyatakan pengunduran diri saya dari pemerintah, berharap agar negara kita tercinta Lebanon segera pulih, dan mengikuti jalan persatuan, kemerdekaan, dan kemakmuran," lanjutnya.

Baca: Demonstrasi 'Meledak' di Lebanon, 1 Polisi Tewas

Manal meminta maaf karena tidak mampu memenuhi harapan rakyat Lebanon. Pengunduran dirinya telah diserahkan kepada PM Hasan Diab. Ia berharap PM Diab bijaksana dan tenang untuk memenuhi tuntutan rakyat, terutama tuntutan reformasi di Lebanon terkait krisis ekonomi yang terjadi negara tersebut.

Di sisi lain, 6 anggota parlemen juga dilaporkan telah mengajukan pengunduran diri mereka dari Parlemen Lebanon, imbas insiden ledakan di Beirut.

Tiga dari perwakilan yang mengundurkan diri mewakili Partai Kataeb, serta perwakilan independen Paula Yaqoubian, Marwan Hamadeh, yang dekat dengan pemimpin Druze Walid Jumblatt, dan terakhir Nehme Ephrem.

Dalam khotbah hari Minggu, Patriark Gereja Maronit, Kardinal Bechara Al-Rai meminta pemerintah untuk mengundurkan diri. Menurutnya, pengunduran diri satu atau beberapa menteri dan anggota parlemen tidaklah cukup. Sebagai komitmen dan tanggungjawab yang besar terhadap rakyat Lebanon, maka seluruh pemerintahan harus mundur.

"Karena pemerintah tidak mampu memajukan negara, dan mengadakan pemilihan parlemen lebih awal, alih-alih parlemen yang telah menjadi pengangguran," tegas

Dia menambahkan, "Apa yang kita saksikan kemarin tentang unjuk rasa menegaskan ketidaksabaran rakyat Lebanon yang tertindas dan terhina, dan menunjukkan tekad untuk berubah menjadi lebih baik," imbuhnya.

Kritikus menyalahkan korupsi dan kepemimpinan yang buruk pemerintahan Lebanon sehingga memicu aksi unjuk rasa di tengah bencana ledakan di Beirut. Ledakan itu menewaskan lebih dari 150 orang, menyebabkan 6.000 terluka dan sekitar 300.000 kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Lebanon telah menghadapi kesulitan selama beberapa waktu dan sudah menghadapi krisis ekonomi sebelum ledakan di Beirut terjadi. Menteri Luar Negeri Nassif Hitti mengundurkan diri pada hari Senin, satu hari sebelum ledakan, imbas buruknya pemerintah untuk menarik negara keluar dari kesengsaraan ekonominya.