IMF: 90 Juta Manusia di Dunia Akan Memasuki Level Kemiskinan Ekstrem

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Sepanjang 2020, perekonomian global menyusut sebanyak 3,5 persen. Jumlah ini merupakan yang terparah sejak Perang Dunia II. Prediksi itu dipublikasikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa, (26/1).

Menurut laporan terbaru, perekonomian dunia akan tumbuh sebesar 5,5 persen tahun ini. Baru Oktober silam, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berkisar di angka 5,2 persen. Jika terbukti, tahun kedua pandemi akan mencatat pertumbuhan global terbesar sejak 2010.

Proyeksi tersebut bergantung pada keberhasilan negara-negara di dunia menjalankan imunisasi massal untuk menghentikan wabah corona. Pelonggaran protokol dan normalisasi kegiatan ekonomi diprediksi akan mewarnai upaya pemulihan di seluruh dunia.

Namun badan dunia itu juga mewanti-wanti agar pemerintah membantu bisnis kecil untuk menanggulangi kerusakan akibat pandemi.

Dalam laporan World Economic Outlook 2021, IMF memprediksi perekonomian AS akan tumbuh 5,1% tahun ini, setelah anjlok 3,4 persen pada 2020. Sementara China yang tahun lalu masih tumbuh 3,4%, tahun ini akan mencatat pertumbuhan sebesar 8,3%.

Ancaman kemiskinan ekstrem bagi kaum marjinal

Ke-19 negara-negara Uni Eropa diyakini akan membukukan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,2 persen. Tahun lalu, ke-27 negara UE kehilangan 7,2% PDB-nya akibat pandemi. IMF memperkirakan perekonomian Jepang akan naik sebanyak 3,1 persen, setelah menyusut 5,1% pada 2020.

Prediksi tertinggi antara lain diberikan kepada India. Berkat pemulihan kilat pada sektor manufaktur dan pertanian, negara di Asia Selatan itu diprediksi tumbuh sebanyak 11,5% pada 2021. Untuk Indonesia, IMF meralat prediksi sebesar 5,4% pada Juni 2020, menjadi 5,2% untuk tahun ini.

"Dengan angka USD 22 triliun, nilai kerugian kumulatif selama 2020 hingga 2025 relatif terhadap level sebelum pandemi masih sangat besar,” kata Direktur IMF, Gita Gopinath, Selasa (26/1).

Dalam sebuah blog di situs IMF, Gopinath menulis negara maju mampu pulih dengan cepat karena bisa memberikan bantuan yang luas bagi pelaku bisnis, dan akses terhadap vaksin. Sebaliknya di negara berkembang, pencapaian yang sudah dicatat selama ini dikhawatirkan sirna.

"Hampir 90 juta manusia di seluruh dunia akan memasuki level kemiskinan ekstrem pada 2021, membalikkan tren selama dua dekade terakhir,” tulisnya, sembari menambahkan bahwa tenaga kerja informal, kaum berpendidikan rendah, atau perempuan termasuk yang paling rentan.

Menurutnya, dunia internasional harus memastikan bahwa "pandemi ditanggulangi di seluruh dunia,” dan memanfaatkan momentum pemulihan untuk membangun "masa depan yang lebih makmur, hijau dan inklusif.”

rzn/hp (dpa, rtr, imf)