IMI Ingin Sirkuit Sentul Jadi Destinasi Sport Tourism

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat periode 2021-2024 Bambang Soesatyo memiliki keinginan menjadikan Sirkuit Sentul sebagai destinasi sport tourism, termasuk menggelar balapan MotoGP.

"Kita akan berusaha bagaimana mengembalikan sirkuit Sentul menjadi salah satu destinasi pariwisata otomotif. Pemerintah sudah menyambut dengan baik gagasan bahwa Sentul nanti akan menjadi salah satu destinasi sport tourism, yang menjadi kebanggaan nasional," kata Bambang Soesatyo.

Namun rancang bangun sirkuit Sentul terbaru lebih dulu mendapat persetujuan dari Dorna Sports sebelum dilakukan renovasi. Pembangunan ulang tersebut di antaranya mencakup keseluruhan sirkuit, baik lintasan, tribun penonton, fasilitas paddock, parkir, hingga rumah sakit di sekitar sirkuit.

"Jadi dosa rasanya kalau kita membiarkan sirkuit Sentul seperti yang ada saat ini. Kita sekarang melakukan kajian dan perencanaan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, pengelola Sentul dan IMI akan bekerjasama dalam mengelola Sentul ke arah yang lebih baik," kata Bambang Soesatyo atau akrab dipanggil Bamsoet.

Dalam rencananya tersebut pemerintah akan terlibat dalam penataan lingkungan di sekitar sirkuit Sentul, sehingga tidak menimbulkan kemacetan dan kesemerawutan ketika MotoGP digelar.

"Saya sendiri sudah berbicara dengan pihak pemerintah untuk membantu pembangunan infrastrukturnya di luar kawasan Sentul agar tidak ada kemacetan manakala ada event internasional, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu," ungkapnya.

Bamsoet berharap sebagai satu-satunya sirkuit bertaraf internasional di Indonesia, Sirkuit Sentul terbaru akan lebih banyak melahirkan pembalap Indonesia yang mampu berbicara banyak di level kejuaraan dunia.

"Sentul sebagai monumen balap nasional telah melahirkan banyak pembalap-pembalap membalap ke tingkat dunia, kita akan mengembalikannya," tukasnya.

Sejarah Sirkuit Sentul

Sirkuit Sentul sendiri menyimpan catatan indah di tahun 1996 dan 1997 dengan ditunjuk sebagai penyelenggaraan MotoGP. Saat itu Michael Doohan menjadi juara di kelas utama 500cc, sementara di kelas 250cc dimenangi pembalap Jepang Tetsuya Harada, serta Masaki Tokudome di kelas 125cc.

Setahun berikutnya giliran Tadayuki Okada menjuarai kelas 500 cc, lalau Max Biaggi menjuarai kelas 250 cc dan Valentino Rossi menjadi juara di kelas 125 cc.

Seperti dilansir dari wikipedia, pembangunan sirkuit Sentul merupakan upaya Indonesia untuk menggelar balapan Formula Satu, dan menjadi yang kedua di Asia setelah Jepang. Saat Hutomo Mandala Putra - putra presiden Republik Indonesia kala itu H.M. Soeharto - memelopori pembangunan sebuah sirkuit di Sentul.

Dengan panjang 4,12 kilometer, sirkuit international Sentul diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penyelenggara Formula Satu, hingga akhirnya pada tahun 1997, krisis moneter di Asia menyebabkan hal tersebut menjadi tidak mungkin dilaksanakan.

Rampung pada tahun 1994, fasilitas yang ada kini telah sedikit tertinggal oleh perkembangan zaman, hingga menyebabkan ia tidak cocok untuk menyelenggarakan ajang yang super cepat sekelas F1 atau MotoGP.

Namun, sirkuit ini tetap cocok bagi pembalap untuk berkompetisi di ajang Asian Formula 3 Super Series. Setelah diadakan beberapa perbaikan di beberapa bagian sirkuit untuk mencapai standar yang ditetapkan FIA untuk menyelenggarakan balapan seperti A1 Grand Prix, yaitu tingkat 2 (tingkat 1 adalah standar untuk menyelenggarakan balapan sekelas F1) maka sirkuit Sentul akhirnya dapat menyelenggarakan A1 Grand Prix selama dua musim (2005-06 dan 2006-07).

Sirkuit International Sentul pernah menjadi tuan rumah seri Asia Talent Cup pada tahun 2014, dan Asia Road Racing Championship hingga tahun 2018.

Sumber: Otosia.com

Infografis 3 Keajaiban Cuci Tangan Saat Pandemi Covid-19

Infografis 3 Keajaiban Cuci Tangan Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Keajaiban Cuci Tangan Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: