Implementasi 5G dapat percepat era "New Normal"

Ida Nurcahyani

Direktur National ICT Strategi dan Marketing Huawei, Mohamad Rosidi, mengatakan implementasi 5G dapat mempercepat era kenormalan baru, "New Normal," fase terjadinya perubahan perilaku masyarakat dalam beraktivitas di tengah pandemi.

"Dengan indikasi ini dan perilaku manusia pada era 'New Normal' untuk tetap terhubung (online) selama pandemi COVID-19, implementasi 5G dapat mempercepat, meski dibutuhkan ketersediaan spektrum yang kami yakini juga menjadi perhatian pemerintah untuk bekerja dengan manajemen spektrum 5G di Indonesia," ujar Rosidi kepada ANTARA, Rabu.

Rosidi melihat pandemi COVID-19 memengaruhi perilaku manusia secara dramatis, orang-orang jadi lebih sering mengakses internet dari rumah untuk bekerja, main game, menonton film secara daring, hingga menggunakan media sosial. Pada yang bersamaan terjadi peningkatan data traffic pada siang hari.

"Dibutuhkan kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan koneksi aktual mereka, untuk menjaga kualitas dan pengalaman," ujar Rosidi.

Lebih lanjut, saat pandemi, Rosidi mengatakan, teknologi juga memiliki peran baru untuk mencegah penyebaran virus COVID 19. Telemedicine, pembelajaran jarak jauh, teleconference, dan telecommuting, menurut dia, menunjukkan bahwa jaringan sangat penting.

Untuk spekturm 5G, ahli dari kantor pusat Huawei, Lin Yanqing, mengatakan pita frekuensi C-Band paling cocok untuk Indonesia.

"Saya sangat menyarankan C-Band," ujar Lin Yanqing dalam temu media virtual "Asia Pacific 5G Online Live Tour," Rabu.

C-Band memiliki besaran 3.7 GHz hingga 4.2 GHz untuk downlink dan 5.925 GHz hingga 6.425 GHz untuk uplink.

Belum bisa dipastikan kapan 5G akan diadopsi di Indonesia, namun, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate pada akhir Januari menyatakan tidak ingin terburu-buru mengadopsi teknologi teranyar tersebut.

Hingga saat ini, berbagai perusahaan teknologi dan telekomunikasi sudah beberapa kali mengadakan uji coba jaringan 5G baik untuk manufaktur, panggilan video hingga kendaraan otonom.


Baca juga: 5G Huawei bakal hadir di 18 merek mobil

Baca juga: Huawei bangun BTS 5G di ketinggian 6.500 meter Everest

Baca juga: Halo Pesan 5G, selamat tinggal SMS/MMS