Implementasi bioenergi untuk mencapai net zero emission

Pemerintah Indonesia siap berkomitmen serius untuk memastikan bahwa transisi dan pengembangan energi yang berpusat pada manusia dan melaksanakan peta jalan transisi energi Indonesia demi menuju netral karbon, hingga mencapai net zero emission (NZE) pada Tahun 2060.

Target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen dengan kemampuan sendiri dan sebesar 41 persen dengan bantuan internasional pada Tahun 2030 telah diperkuat melalui dokumen Nationally Determined Contribution (NDC).

Untuk memenuhi NZE tersebut, Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai aksi mitigasi, yaitu dengan meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada Tahun 2025 dan ditargetkan menjadi 31 persen pada Tahun 2050.

Upaya lain yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah pengurangan penggunaan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, penggunaan daya listrik di rumah tangga dan industri, serta pemanfaatan carbon capture and storage (CCS).

Director of Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB Dr. Meika Syahbana Rusli sebagai pembicara di International Conference on Biomass and Bioenergy (ICBB) 2022 mengatakan bahwa realisasi bauran EBT Indonesia pada Tahun 2021 sebesar 12,2 persen.

Jumlah tersebut sedikit melebihi 50 persen dari target Tahun 2025, yaitu 23 persen, sehingga masih terdapat celah yang perlu diisi guna memenuhi target tersebut untuk pembangkit listrik tenaga bioenergi, biofuel dan produksi biogas.

Terdapat banyak bahan baku biofuel potensial di Indonesia ini yang dapat dimanfaatkan dan diolah untuk menjadi bioenergy, seperti selulosa, hemiselulosa, atau lignin, mikro dan makro-alga, biomassa dan sisa tanaman serta minyak goreng bekas.

Teknologi baru juga perlu dikembangkan yang mengubah biomassa, limbah dan molekul selulosa menjadi hidrokarbon. Pengembangan produk bioenergi lainnya adalah bioetanol, bahan bakar biohidrokarbon, green diesel (D100), gasoline, avtur, HVO, dan biofuel berbasis biomassa lainnya.

Menurut Dr. Meika, pengembangan bioenergi yang paling maju di Indonesia adalah biofuel, khususnya biodiesel melalui program mandatory biodiesel. Kapasitas industri yang memasang biodiesel tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia dengan produksi biodiesel B30 mencapai 8,4 juta KL dengan konsumsi dalam negeri sebesar 9,4 juta KL pada Tahun 2021, dan untuk implementasi lebih lanjut saat ini dalam tahap uji tes B40.

Kesuksesan Indonesia ini terwujud berkat adanya kerja sama dan sinergi antara pemerintah, pusat penelitian, industri, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dari penggunaan biodiesel ini, diproyeksikan kontribusi biodiesel B30 terhadap NDC di sektor energi, yakni pengurangan emisi GRK sebesar 24,6 Mio ton CO2 eq atau setara dengan 7,8 persen pada Tahun 2021.

Selain itu, diketahui pula bahwa program lain untuk mencapai NZE adalah melalui program co-firing PLTU. Implemetasi co-firing saat ini telah dilakukan di 28 titik PLTU dari target 52 titik PLTU yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total energi yang dihasilkan 96.061 MWh.

Dengan kontribusi biomassa co-firing terhadap NDC di bidang energi, ini merupakan pengurangan emisi GRK sebesar 0,268 juta ton CO2 eq atau setara dengan 0,09 persen di Tahun 2021.

Jika roadmap berhasil diterapkan, maka pengurangan emisi dari co-firing dapat berkontribusi sekitar 3,5 juta ton CO2 eq untuk 5 persen co-firing dan 6,8 juta ton CO2 eq untuk 10 persen co-firing.

Namun, implementasi co-firing masih memiliki kendala terkait belum adanya aturan baku harga biomassa sebagai bahan baku co-firing. Selain itu, penyesuaian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) digunakan untuk pembakaran serta ketersediaan lahan aktual untuk menghasilkan biomassa.

Dalam memenuhi program co-firing ini, maka Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah bekerja sama dengan berbagai pihak, yakni BUMN, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi untuk memastikan kesiapan rantai pasok dan ketersediaan biomassa dari segi kapasitas dan nilai ekonomi.

PLN juga bekerja sama dengan SBRC-IPB mengkaji potensi lahan kering di Pulau Jawa. SBRC-IPB juga mengusulkan skema pengelolaan ekosistem masyarakat untuk bahan bakar biomassa guna membantu memastikan keberlangsungan program co-firing.

Penelitian dan pengembangan biogas juga telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak untuk mendukung target bauran energi dan mencapai NZE.

Pihak industri yang telah mengimplementasikan biogas, yakni DSNG yang menghasilkan BioCNG (CH4 ~90 persen). Selain itu terdapat tiga pembangkit listrik tenaga biogas yang berlokasi di Sei Mangkei, Pagar Merbau, dan Kwala Sawit.

Estimasi potensi produksi metana dari makroalga Indonesia dapat mencapai 143,88 – 366,24 juta KL CH4, dan yang tertinggi berada di Sulawesi Selatan yang menghasilkan makroalga tertinggi sebesar 2.616 ribu ton.

Kontribusi positif bioenergi terhadap NDC Indonesia di Sektor Energi pada Tahun 2020 adalah Penurunan Emisi GRK sekitar 24,6 Mio Ton CO2 eq ~ 7,8 persen dari biodiesel B30; 0,268 Mio Ton CO2 eq ~ 0,09 persen dari biomassa co-firing, dan 0,177 Mio Ton CO2 eq ~ 0,06 persen dari pembangkit listrik biomassa.

Dengan demikian, penurunan emisi diharapkan akan terus meningkat seiring dengan didukung oleh upaya perbaikan implementasi bioenergi lainnya.

*) Athin Nuryanti adalah Surfactant and Bioenergy Research Center LPPM - IPB University