Impor Februari 2021 Naik 14,8 Persen Didorong Produk Farmasi

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya penurunan kinerja impor Indonesia pada Februari 2021 dibandingkan dengan Januari 2021. Akan tetapi dibanding Februari 2020 terjadi peningkatan impor.

Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, impor pada bulan tersebut sebesar US$13,26 miliar. Turun 0,49 persen dibanding Januari 2021 tapi naik 14,86 persen dibanding Februari 2020.

Meski secara bulanan terjadi penurunan, Suhariyanto menganggap kinerja impor ini sudah menunjukkan perbaikan. Sebab, secara tahunan mengalami kenaikan yang cukup pesat di tengah masa COVID-19.

"Ini saya pikir indikasi yang bagus karena terakhir kali impor kita mengalami kenaikan adalah pada Juni 2019," tegas dia saat konferensi pers, Senin, 15 Maret 2021.

Baca juga: Anies: Masjid Luar Batang Akan Jadi Destinasi Wisata Religi

Berdasarkan penggunaan barangnya, impor konsumsi pada Februari 2021 US$1,22 miliar. Besaran nilai impor ini turun hingga 13,78 persen secara bulanan sedangkan secara tahunan naik 43,59 persen.

Impor konsumsi secara bulanan karena ada penurunan untuk impor vaksin, bawang putih dari China serta buah-buahan seperti Jeruk Mandarin dan Apel serta daging beku dari Australia.

"Secara year on year yang naik impor konsumsinya adalah untuk produk-produk farmasi, buah-buahan dan sayuran seperti untuk bawang putih," tegas dia.

Demikian juga untuk impor bahan baku atau bahan penolong yang sebesar US$9,89 miliar. Secara bulanan, nilainya turun 0,50 persen sedangkan secara tahunan naik 11,53 persen.

"Month to month di sana yang turun adalah crude petroleum oils dari Gabon, kemudian fero aloy dari India, juga ada part of electrical dari Amerika Serikat serta diagnostic laboratory dari China," ucap Suhariyanto.

Sementara itu, impor barang modal menjadi satu-satunya yang naik secara bulanan. Pada bulan itu nilanya US$2,15 miliar, naik 9,08 persen dibanding Januari 2021 dan naik 17,68 persen dibanding Februari 2020.

"Komoditas yang naik cukup tinggi, pertama telepon seluler dari Tiongkok kemudian beberapa mesin motor vehicle electrically operated dari Filipina, beberapa mesin dari Jepang ada Tanker dari Singapura," tegasnya.