Impor Produk Farmasi Mulai Turun di Oktober 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Impor Indonesia pada Oktober 2021 mencapai USD16,29 miliar. Angka ini naik 0,36 persen dibandingkan September 2021 atau naik 51,06 persen dibandingkan Oktober 2020.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan, pada bulan lalu impor hampir naik pada semua sektor kecuali pada sektor konsumsi. Sektor ini mengalami penurunan terutama untuk impor farmasi dan buah-buahan.

"Komoditas yang berpengaruh pada impor konsumsi, karena menurunnya impor untuk produk farmasi yang mengalami penurunan 35,44 persen lalu diikuti buah buahan turun 14,51 persen," kata Margo, Jakarta, Senin (15/11/2021).

Margo mengatakan, dibalik penurunan sektor konsumsi, impor bahan baku penolong dan barang modal mengalami lonjakan. Masing masing sebesar memberikan sumbangan 75,55 persen dan 14,60 persen.

"Bahan baku penolong menyumbang 75,55 persen, barang modal menyumbang 14,60 persen, konsumsi konsumsi menyumbang 9,76 persen," jelasnya.

Dia menambahkan, besarnya porsi impor bahan baku penolong dan barang modal menandakan aktivitas ekonomi mulai mulai meningkat. Ini menandakan perekonomian mulai membaik.

"Bahan baku penolong 75,55 persen dan barang modal sebesar 14,60 persen indikasi baik karena bahan baku penolong dan barang modal sama-sama meningkat dan ini berdampak pada aktivitas ekonomi Indonesia," tandasnya.

Reporter: Anggun P Situmorang

Sumber: Merdeka.com

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Neraca Perdagangan Indonesia pada Oktober 2021 Surplus USD 5,73 Miliar

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Kebijakan ISRM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan dan efektifitas pengawasan dalam proses ekspor-impor. (Liputan6.com/Immaniel Antonius)
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Kebijakan ISRM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan dan efektifitas pengawasan dalam proses ekspor-impor. (Liputan6.com/Immaniel Antonius)

Indonesia kembali membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,73 miliar atau setara Rp 81,3 triliun (kurs Rp 14.204 per dolar AS) pada Oktober 2021. Surplus ini karena ekspor lebih besar dibanding impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka ekspor pada Oktober 2021 yang mencapai USD 22,03 miliar masih lebih tinggi dibanding volume impor di bulan yang sama, yakni sebesar USD 16,29 miliar.

“Dengan nilai ekspor sebesar USD 22,03 miliar di bulan oktober yang tadi saya sampaikan, dan impor kita di bulan Oktober ini adalah USD 16,29 miliar. Maka kalau kita kalkulasi neraca perdagangan di bulan Oktober 2021 ini tercatat surplus sebesar USD 5,73 miliar,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Senin (15/11/2021).

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika dilihat secara tren, neraca perdagangan Indonesia ini telah membukukan surplus selama 18 bulan secara beruntun.

Sementara jika dilihat dari komoditas penyumbang surplus terbesarnya adalah dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja. Sedangkan, negara penyumbang surplus terbesarnya itu dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan Filipina.

“Dengan Amerika Serikat ya kita mengalami surplus sebesar USD 1,7 miliar, dan kalau kita lihat komoditasnya itu adalah lemak dan minyak hewan nabati, diikuti pakaian dan aksesorisnya atau rajutan,” ujarnya.

Negara penyumbang surplus kedua, yakni Tiongkok. Indonesia mengalami surplus yang USD 1,3 miliar dengan komoditas dari bahan bakar mineral dan besi dan baja. Sedangkan ke Filipina, Indonesia juga surplus sebesar USD 685,7 juta dengan komoditas penyumbang surplusnya berasal dari bahan bakar mineral dan kendaraan dan bagiannya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel