Impor Vaksin Capai Rp6 Triliun di Kuartal I, Paling Banyak dari China

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pemerintah terus gencar melakukan impor vaksin untuk mengatasi wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, China. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor vaksin secara keseluruhan, termasuk vaksin COVID-19, pada Maret 2021 telah mencapai US$178,7 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun (kurs Rp14.600 per dolar AS). Naik 102,5 persen dibanding Februari 2021.

"Nilai impor vaksin untuk manusia Maret ini adalah US$178,7 juta. Artinya naik 102,5 persen dari bulan lalu," kata Kepala BPS Suhariyanto secara virtual, Kamis, 15 April 2021.

Selama kuartal I-2021, impor vaksin khusus untuk manusia ini dikatakannya telah mencapai US$443,4 juta atau setara dengan Rp6,47 triliun. Angka impor tersebut mengalami peningkatan drastis hingga 1.315 persen dibanding Maret 2020.

"Kalau dilihat selama kuartal I total impor vaksinya US$443,4 juta. Itu naik 1.315 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," tutur Suhariyanto.

Menurutnya, impor vaksin ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk memvaksinasi 181,5 juta orang supaya mampu tahan terhadap Pandemi COVID-19. Setiap orang akan divaksin sebanyak dua dosis.

Secara umum, Suhariyanto menyebutkan bahwa impor vaksin pada Maret 2021 mayoritas tercatat berasal dari China. Sebagaimana diketahui, China merupakan salah satu produsen vaksin COVID-19 yang salah satunya adalah buatan Sinovac Biotech Ltd.

Impor vaksin ini merupakan bagian dari impor barang konsumsi Indoensia yang pada bulan itu tercatat senilai US$1,41 miliar. Total impor konsumsi ini naik 15,51 persen secara bulanan dan 13,40 persen secara tahunan..

"Yang tinggi diantaranya vaksin kita impor dari Tiongkok kemudian susuk dan krim bubuk dari Selandia Baru, gula mentah dari India, mesin AC dari Thailand dan satu lagi jeruk mandarin dari Tiongkok," kata dia saat konferensi pers, Kamis, 15 April 2021.