Impoten adalah Disfungsi Ereksi, Kenali Penyebabnya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Impoten adalah salah satu masalah yang bisa terjadi pada pria. Secara umum, impoten adalah kondisi yang tidak membahayakan. Namun, impoten adalah masalah yang bisa menyebabkan stres, memengaruhi kepercayaan diri dan berkontribusi pada masalah hubungan.

Impoten adalah kondisi yang berkaitan dengan disfungsi seksual. Impoten adalah masalah yang dapat terjadi pada semua usia. Namun, impoten adalah kondisi yang paling sering terjadi pada pria yang lebih tua.

Ada beragam faktor yang bisa menjadi penyebab impoten. Penyebab impoten adalah faktor yang bisa berasal dari fisik maupun psikologis. Berikut penjelasan tentang impoten, penyebab, dan perawatannya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (9/11/2021).

Mengenal impoten

Ilustrasi penis (pixabay)
Ilustrasi penis (pixabay)

Impoten adalah sebutan untuk kondisi disfungsi ereksi. Impoten, impotensi, atau disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi. Impotensi terjadi ketika pria tidak dapat mencapai ereksi, mempertahankan ereksi, atau ejakulasi secara konsisten.

Impoten adalah kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan. Impoten adalah masalah yang bisa terjadi pada semua usia. Namun, risiko impoten meningkat seiring bertambahnya usia.

Impoten juga lebih tinggi pada pria yang didiagnosis dengan satu atau lebih faktor risiko kardiovaskular. Disfungsi ereksi tidak selalu menjadi perhatian. Namun, jika berlangsung bekelanjutan, ini dapat menyebabkan stres, memengaruhi kepercayaan diri dan berkontribusi pada masalah hubungan.

Impoten juga bisa menjadi tanda kondisi kesehatan mendasar. Ini seperti gangguan saraf, jantung, dan kardiovaskular.

Penyebab impoten

Saraf di dalam tubuh manusia (sumber: pixabay)
Saraf di dalam tubuh manusia (sumber: pixabay)

Gangguan endokrin

Impoten adalah kondisi yang bisa menandakan adanya gangguan endokrin. Sistem endokrin tubuh menghasilkan hormon yang mengatur metabolisme, fungsi seksual, reproduksi, suasana hati, dan banyak lagi. Diabetes adalah contoh penyakit endokrin yang dapat menyebabkan impotensi.

Salah satu komplikasi yang terkait dengan diabetes kronis adalah kerusakan saraf. Ini memengaruhi sensasi penis. Komplikasi lain yang terkait dengan diabetes termasuk gangguan aliran darah dan kadar hormon. Kedua faktor ini dapat berkontribusi pada impotensi.

Gangguan saraf

Sejumlah kondisi neurologis dapat meningkatkan risiko impotensi. Kondisi saraf mempengaruhi kemampuan otak untuk berkomunikasi dengan sistem reproduksi. Inilah yang dapat menghambat pencapaian ereksi.

Gangguan neurologis yang berhubungan dengan impotensi meliputi penyakit alzheimer, parkinson, tumor otak atau tulang belakang, multipel skleoris, stroke, dan epilepsi lobus temporal. Seseorang yang pernah menjalani operasi prostat juga bisa mengalami kerusakan saraf yang menyebabkan impoten. Pengendara sepeda jarak jauh bisa mengalami impotensi sementara. Tekanan berulang pada bokong dan alat kelamin dapat memengaruhi fungsi saraf.

Pengobatan tertentu

Obat-obatan tertentu dapat memengaruhi aliran darah, yang menyebabkan impoten. Contoh obat yang diketahui menyebabkan impotensi meliputi penghambat alfa-adrenergik, beta-blocker, obat kemoterapi kanker, depresan sistem saraf pusat, Stimulan SSP, diuretik, inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), dan hormon sintetis.

Penyebab impoten

Sumber: Freepik
Sumber: Freepik

Kondisi terkait jantung

Kondisi yang memengaruhi jantung dan kemampuannya untuk memompa darah dengan baik dapat menyebabkan impoten. Tanpa aliran darah yang cukup ke penis, pria tidak dapat mencapai ereksi.

Aterosklerosis, suatu kondisi yang menyebabkan pembuluh darah tersumbat, dapat menyebabkan impotensi. Kolesterol tinggi dan hipertensi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko impotensi.

Faktor gaya hidup dan gangguan emosional

Gaya hidup dapat menjadi penyebab impoten. Untuk mencapai ereksi, pria harus melalui fase kegembiraan. Fase ini dapat berupa respons emosional. Jika memiliki gangguan emosional, ini akan memengaruhi kemampuan untuk menjadi bersemangat secara seksual.

Depresi dan kecemasan berhubungan dengan peningkatan risiko impotensi. Kelelahan yang berhubungan dengan depresi juga dapat menyebabkan impotensi. Penyalahgunaan obat-obatan seperti kokain dan amfetamin juga dapat menyebabkan impotensi. Penyalahgunaan alkohol dan alkoholisme dapat mempengaruhi kemampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi juga.

Perawatan impoten

Ilustrasi Penyakit  Credit: unsplash.com/Olga
Ilustrasi Penyakit Credit: unsplash.com/Olga

Perawatan impoten didasarkan pada penyebabnya. Dokter akan memastikan orang yang mengalami impoten menerima perawatan yang benar terkait kondisi yang mendasarinya. Dokter kemudian akan mengobati disfungsi ereksi secara langsung. Berikut pilihan perawatan impoten:

Obat-obatan oral

Ada beberapa obat oral yang dapat diresepkan untuk impoten. Obat-obatan impoten adalah sildenafil (Viagra), tadalafil (Cial), vardenafil (Levitra), dan avanafil. Obat-obatan ini tidak secara otomatis menyebabkan ereksi. Orang yang meminumnya masih harus mendapatkan beberapa rangsangan seksual agar mereka dapat bekerja. Mereka tidak menyebabkan gairah seksual dan bukan afrodisiak.

Alprostadil

Jika disfungsi ereksi tidak merespon pengobatan, mereka mungkin ditawarkan alprostadil. Ini adalah hormon buatan manusia yang dapat membantu merangsang aliran darah ke penis. Hormon bisa disuntikkan langsung ke penis atau ditempatkan di uretra dalam bentuk pelet.

Pompa vakum

Pengobatan alternatif lain untuk impotensi adalah pompa vakum. Ini dapat dioperasikan dengan tangan atau bertenaga baterai. Sebuah pompa vakum dapat memungkinkan seorang pria untuk mempertahankan ereksi selama sekitar 30 menit.

Operasi

Prosedur pembedahan mungkin direkomendasikan tetapi hanya jika semua metode pengobatan lain gagal. Perawatan bedah ini melibatkan penempatan implan, yang bisa semi-kaku atau tiup, di dalam penis.

Perawatan psikologis

Jika impoten disebabkan oleh stres, kecemasan, atau alasan psikologis lainnya, dokter akan menyarankan orang tersebut untuk mengunjungi psikolog atau konselor.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel