Imran Tajuddin, dari Papua Melamar tvOne

Syahdan Nurdin
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tak kenal kata menyerah. Ditolak beberapa kali di tv lokal, Imran Tajuddin mencoba melamar lagi, plus tv nasional. Ia diterima dan memilih menjadi jurnalis tvOne.

Imran Tajuddin lahir dan besar di Papua. Ia lahir di Nabire, 14 Maret 1993. Orangtuanya asal Bugis merantau di Papua.

Lulus SMA, Imran ke Makassar. Ia kuliah di Universitas Muslim Indonesia Makassar (UMM) dengan program studi Teknil Sipil.

Lulus kuliah akhir 2015, ia memulai hidup baru untuk bekerja. Ia tertarik ke dunia jurnalistik tv. Ia pun mengirim lamaran ke tv lokal yang ada di Makassar.

Sayang, lamarannya ditolak. Ia mengalami 4 kali penolakan di tv lokal yang ada di Makassar. Ia tak menyerah, ia kembali mengirimkan lamarannya ke tv lokal lain. Akhirnya diterima, namun ia lakoni hanya 3 bulan karena lamarannya ke tv nasional juga diterima.

Ia kemudian memilih bergabung ke tvOne pada akhir 2016 lewat penerimaan jurnalis di program JDP tvOne. Waktu itu, Imran lagi pulang kampung ke orangtuanya di Papua. Nonton di tvOne ada iklan penerimaan jurnalis, ia langsung mencoba mengirim lamaran.

Surat lamarannya dijawab. Imran dipanggil ke Jakarta untuk ikut tes. "Alhamdulillah ternyata jodoh. Padahal sebelumnya sempet nyoba tv lokal di Makassar beberapa kali, tapi ditolak-tolakin sama tv lokal sana," kenang Imran Tajuddin, Sabtu, pekan ini.

Imran tertarik jurnalis televisi karena basic-nya memang suka ngomong dan selalu ingin tahu dengan peristiwa terbaru. Apalagi pekerjaan ini punya dampak besar.

"Dan itu ada di tangan kita ketika menyampaikan laporan langsung ke masyarakat, terutama liputan bencana. Kita bisa jadi yang terdepan sampai di lokasi dan bisa melaporkan kondisi dan apa kebutuhan masyarakat di sana. Itu luar biasa sih,” jelas lulusan UMM tahun 2011 ini.

Jadi jurnalis tvOne menjadi kebanggan tersendiri. Tak bisa dipungkiri kalau bicara soal jurnalisme terutama soal jurnalisme tv, tvOne nomor satu. Banyak masyarakat yang suka tvOne.

Imran berkisah saat liputan di lapangan dengan mengenakan seragam merah tvOne, meskipun tidak kenal mereka menyapa dengan hangat, mereka memberi bantuan, memberi akses jalan.

"Bahkan mereka minta foto walaupun memang fotonya bukan sama kita,tapi sama seragam kita. Jadi itu kebanggaan jadi jurnalis tvOne, karena disukai masyarakat,” ujar Imran yang dikenal suka bercanda ini.

Tentu dalam menjalani profesi ini perlu tanggung jawab besar dan totalitas yang tinggi untuk memberikan informasi terbaik untuk masyarakat.

Imran mengalami kisah itu. Saat liputan bencana, ia mengalami dari yang tidak tidur seharian karena harus liputan sampai tengah malam dan terus menyambung siaran untuk update bencana.

Cerita lain, ia pernah dikejar tsunami saat liputan bencana di Banten, terpaksa makan biskuit Khong Guan waktu di Palu karena stok makanan berat tidak ada, tidur beralas tanah beratap langit karena takut kena gempa.

Bahkan ia pun harus siaga dari ancaman bom saat liputan di Gaza (Palestina), kebetulan Israel sedang bombardir lokasi sekitar yang ia tempati. Imran di sana ini hampir 3 mingguan antara Februari-Maret 2020.

Imran selain liputan di lapangan sebagai reporter, ia juga diberi kesempatan untuk menjadi presenter tvOne. Ia pertama kali siaran bulan September 2018, program Kabar Pagi.

Setelah itu, ia siaran untuk prorgam Kabar Arena, Apakabar Indonesia Pagi, Kabar Siang, Sidik Jari, Kabar Pandemi Corona, Ragam Perkara, dan Kabar Dunia.

Untuk yang mau jadi jurnalis dan presenter seperti Imran Tajuddin harus punya kemauan yang kuat. Jangan menyerah, harus rajin latihan, siapkan diri, dan terus mau belajar sampai kapan pun.

"Jangan sampai kesempatan datang kita belum siap. Saya saja dari kampung nan jauh dari Jakarta bisa sampai di tv berita nasional nomor satu, apalagi teman-teman yang lain pasti bisa lebih,” pesan Imran yang memiliki performa look on air bagus ini.