Indahnya Toleransi, Umat Kristen di Gaza Sambut Ramadhan dengan Berbagi Bersama Muslim

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gaza- Banyak umat Kristen di Jalur Gaza berpartisipasi dalam acara dan ritual Ramadhan.

Hal itu diungkapkan oleh Sanaa Tarazi, sekretaris Supreme Presidential Committee for Churches Affairs, kepada Arab News.

Tarazi menekankan bahwa umat Kristen di Gaza adalah "bagian integral dari rakyat Palestina."

Menurut statistik gereja tersebut, ada 390 keluarga Kristen, dengan perkiraan 1.313 anggota, tinggal di Gaza di antara sekitar 2 juta Muslim.

"Tidak ada yang bisa membedakan seorang Muslim dari seorang Kristen, kita semua adalah tetangga dekat, memiliki ikatan cinta dan kasih sayang di antara kita," kata Tarazi, seperti dilansir Arab News, Jumat (23/4/2021).

Tarazi dibesarkan di rumah keluarganya di jantung kota tua Gaza. Ramadhan, menurutnya, adalah bulan "kenangan masa kecil yang indah" ketika dia dan teman-temannya di lingkungan bermain mereka menikmati lentera dan kembang api di jalanan, mengubah malam menjadi siang hari.

Toleransi telah Tarazi wariskan kepada kedua anaknya, yang saat ini bersekolah di luar negeri - mendekorasi rumah dengan lampion dan ornamen lainnya setiap Ramadhan.

Kebiasaan makan dan minum kami berubah drastis selama Ramadan, ungkap Tarazi.

"Sering kali, kami akan (meninggalkan) makan siang dan makan saat adzan Maghrib (malam)," terangnya.

Ditambahkannya juga bahwa dia memastikan untuk berhati-hati saat memasak makanan untuk keluarganya, agar bau makanan tidak mengganggu tetangga Muslimnya saat mereka berpuasa.

Seperti yang biasanya dilakukan di antara warga Gaza, Tarazi mengatakan bahwa dia secara tradisional memasak Mulukhiya pada hari pertama Ramadhan, untuk mengantisipasi tahun yang baik dan penuh berkah.

Dia dan tetangganya pun bertukar makanan dan manisan khas Ramadhan.

Selain itu, ia juga membuat makanan " bernama Qatayef" di rumahnya untuk kemudian dibagikan kepada tetangganya yang Muslim dan Kristen selama Ramadhan.

Berbagi Kasih Sayang di Bulan Suci

Matahari terbenam di pantai yang kosong selama lockdown untuk menahan pandemi virus corona COVID-19 di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (18/12/2020). Jam malam juga memaksa warga Gaza untuk tetap berada di rumah. (AP Photo/Khalil Hamra)
Matahari terbenam di pantai yang kosong selama lockdown untuk menahan pandemi virus corona COVID-19 di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (18/12/2020). Jam malam juga memaksa warga Gaza untuk tetap berada di rumah. (AP Photo/Khalil Hamra)

Suami Tarazi, Majed - pemimpin organisasi Ortodoks Arab di Gaza, berbagi kasih sayang pada bulan suci umat Ramadhan.

Dia mengatakan kepada Arab News bahwa malam Ramadhan bersama teman-temannya adalah "pengalaman khusus" dan bahwa tahun ini, karena pandemi COVID-19, dia kehilangan sejumlah ritual Ramadhan yang biasa ia ikuti dengan banyak teman Muslimnya.

Organisasi yang dijalani Majed juga biasanya mengadakan acara buka puasa di Gereja Ortodoks Yunani di Gaza, tetapi harus dibatalkan kali ini, untuk tahun kedua berturut-turut.

"Kami mengadakan acara buka puasa di gereja untuk mengekspresikan toleransi dan menunjukkan kedalaman hubungan dengan Muslim yang mengikat kami di Gaza," kata Majed.

"Ini adalah hubungan kami: Tetangga yang penuh kasih, sesama teman, berbagi nasib yang sama," katanya, sambil menunjuk menara bersejarah masjid Kateb Wilaya, yang telah ada sejak awal abad ke-14 M dan berhadapan ke gereja.

"Sama seperti saudara Muslim kami yang memberi selamat pada kami pada hari keagamaan kami, mereka berbagi suka dan duka, bertukar cinta dan hormat serta menghargai kesucian ritual dan acara keagamaan kami," tambahnya.

INFOGRAFIS: Beda Durasi Waktu Puasa Negara-Negara di Dunia

INFOGRAFIS: Beda Durasi Waktu Puasa Negara-Negara di Dunia (Liputan6.com / Triyasni)
INFOGRAFIS: Beda Durasi Waktu Puasa Negara-Negara di Dunia (Liputan6.com / Triyasni)

Saksikan Video Berikut Ini: