Indef: Covid-19 bisa mendorong negara-negara ke era proteksionisme

Arief Pujianto

Associate Peneliti ekonomi Muhammad Zulfikar Rakhmat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan pandemi Covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia saat ini akan membawa dunia kembali ke era proteksionisme.

"Covid-19 akan membawa berbagai negara di dunia ke masa kebijakan proteksionisme pernah berjaya, kemungkinan dengan bentuk yang baru," ujar Zulfikar Rakhmat dalam diskusi daring bertema "Dunia Setelah Corona" di Jakarta, Rabu malam.

Selain itu, dia juga menambahkan dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 tersebut begitu luar biasa terhadap perekonomian global, sehingga kemungkinan mereka yang nantinya melakukan perjalanan baik domestik maupun internasional akan terus menerus mendapatkan penyuluhan mengenai pencegahan Covid-19 tersebut.

Baca juga: Investor Eropa khawatirkan proteksionisme investasi di Indonesia
Baca juga: Pejabat-pejabat keuangan ASEAN+3 tekankan perlu tolak proteksionisme

"Saya memikirkan kapan pandemi ini akan berakhir? kemungkinan hal tersebut akan lama," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat ekonomi Indef lainnya, Andry Satrio, menilai negara-negara di dunia pasca pandemi Covid-19 akan lebih ketat dalam mengawasi arus keluar masuk manusia di perbatasannya.

"Setelah ini terjadi, semuanya akan lebih parah dibandingkan perang dagang. Kemungkinan akan terjadi deglobalisasi yang benar-benar ketat mengingat berbagai negara di dunia akan menutup perbatasannya atau minimal mengawasi perbatasan sangat ketat terhadap para pendatang dari luar," kata Andry dalam diskusi daring tersebut.

Andry juga menilai bahwa pandemi Covid-19 di seluruh dunia baru akan berakhir ketika vaksin untuk menanggulangi penyakit tersebut telah ditemukan.

"Bisa dibilang setahun dari sekarang, terdapat peluang vaksin Covid-19 baru ditemukan," katanya.
Baca juga: Tangkal proteksionisme, Indef sarankan anggaran tim negosiasi diperbesar
Baca juga: HSBC: prospek ASEAN menjanjikan di tengah proteksionisme
Baca juga: Antisipasi proteksionisme AS, Kemenperin minta industri perluas pasar ekspor

Sebelumnya, analisis Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Persatuan Bangsa Bangsa (UN-DESA) menyebut perekonomian global dapat menyusut hingga satu persen pada 2020 karena pandemi Virus Corona baru atau COVID-19, dan dapat berkontraksi lebih jauh jika pembatasan kegiatan ekonomi diperpanjang tanpa respons fiskal memadai.

Pengarahan UN-DESA menunjukkan jutaan pekerja berisiko kehilangan pekerjaan ketika hampir 100 negara menutup perbatasan nasional mereka. Itu bisa berarti kontraksi ekonomi global 0,9 persen pada akhir 2020, atau bahkan lebih tinggi jika pemerintah gagal memberikan dukungan pendapatan dan membantu meningkatkan belanja konsumen.

Menurut perkiraan, penguncian di Eropa dan Amerika Utara memukul sektor jasa dengan keras, terutama industri yang melibatkan interaksi fisik seperti perdagangan ritel, rekreasi dan perhotelan dan transportasi. Secara kolektif, industri-industri semacam itu mencakup lebih dari seperempat dari semua pekerjaan di negara-negara tersebut.