Indef: Dampak Bansos Belum Signifikan ke Konsumsi Masyarakat

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov menilai, sejumlah program bantuan sosial atau bansos yang disalurkan pemerintah kepada masyarakat, guna menahan dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19, nyatanya belum berpengaruh secara signifikan.

Hal itu, menurutnya, dapat dilihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencatat bahwa pertumbuhan sektor konsumsi di kuartal III-2020 masih terkontraksi mencapai sebesar 4 persen.

"Konsumsi rumah tangga itu masih minus 4 persen. Padahal kuartal I-2020 begitu banyak bantuan sosial, tapi efeknya ternyata masih belum cukup signifikan," kata Abra dalam telekonferensi, Selasa, 10 November 2020.

"(Sektor konsumsi) minus 5,52 persen di kuartal II-2020 dan hanya turun 1,5 persen menjadi minus 4,04 persen (di kuartal III-2020)," ujarnya.

Karenanya, Abra menilai di dalam situasi seperti saat ini, pemerintah harus lebih keras lagi dalam menggenjot sektor konsumsi agar bisa keluar dari jurang kontraksi. Tujuannya tak lain adalah demi mendorong tingkat konsumsi masyarakat, supaya bisa semakin membaik di kuartal IV-2020.

"Karena kalau kita hanya mengandalkan belanja masyarakat dan investasi itu tidak bisa diandalkan," ujar Abra.

Oleh sebab itu, Abra berharap pemerintah bisa lebih memaksimalkan berbagai program pemberian stimulus, untuk mendorong konsumsi rumah tangga.

"Karena sektor konsumsi rumah tangga lah yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya," ujarnya.

Diketahui, kontraksi yang terjadi pada sektor konsumsi rumah tangga di kuartal II-2020 tercatat mencapai 5,51 persen. Menurut sejumlah pihak, kontraksi sebesar itu di sektor konsumsi rumah tangga dikhawatirkan akan bisa memicu resesi pada kuartal III-2020.

Namun ternyata, kontraksi masih terjadi di sektor konsumsi kuartal III-2020, yang mencapai sebesar 4 persen. Sehingga, perekonomian nasional pun disebut-sebut sudah berada di dalam kondisi resesi karena mengalami minus dua kali dalam dua kuartal berturut-turut.