Indef harap "windfall" ekspor di triwulan II/2022 jangan sampai kendor

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengharapkan windfall dari kinerja ekspor Indonesia pada triwulan II/2022 sebesar 19,74 persen year on year (yoy) atau lebih tinggi dari triwulan I/2022 sebesar 16,69 persen yoy tidak sampai kendor.

“Kita berharap windfall dari ekspor jangan sampai kendor di dua triwulan berikutnya walaupun kita kasih catatan bahwa tanda-tanda mulai menipisnya surplus sudah kelihatan,” ujar dia dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Minggu.

Tanda-tanda adanya penipisan surplus dilihat dari kecenderungan perkembangan ekonomi negara mitra dagang Indonesia yang mengalami peningkatan inflasi, sementara pertumbuhan ekonomi menurun.

Hal tersebut membuat daya beli tergerus, sehingga permintaan negara mitra dagang terhadap komoditas dari Indonesia juga akan menurun.

“Ini harus diantisipasi karena kalau turun, itu persoalannya bukan hanya terhadap neraca perdagangan, tetapi juga kepada stabilitas nilai tukar kita. Ini kan pundi cadangan devisa,” katanya.

Kini, pemerintah disebut sedang berupaya mempertahankan suku bunga perekonomian. Tetapi, implikasi dari kebijakan itu adalah nilai rupiah tertekan sehingga lebih sering membutuhkan operasi moneter yang pasti membutuhkan amunisi, yakni cadangan devisa.

“Kalau kita tak bisa merawat surplus ekspor, memang kemungkinan tekanan ke rupiahnya juga lebih tinggi disebabkan ini salah satu yang menjadi penopang utama karena modal asing sudah banyak yang keluar, terutama dana-dana portofolio seiring dengan agresivitas dari Fed Fund Rate (FFR). Sementara di sisi lain kita memang punya strategi yang berbeda, yaitu mencoba tetap mendorong perekonomian dari sisi suku bunga,” ungkap Eko.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pada triwulan II 2022 melesat sebesar 19,74 persen akibat pendapatan dari keuntungan tak terduga atau windfall kenaikan harga komoditas.

"Jadi karena harga komoditas internasionalnya bagus, Indonesia mendapatkan keuntungan," ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Secara rinci pertumbuhan signifikan ekspor tersebut berasal dari ekspor barang yang tumbuh 18,03 persen pada triwulan II 2022 (yoy) dan ekspor jasa yang melonjak 60,02 persen (yoy).

Selain kenaikan harga komoditas global, Margo menyebutkan ekonomi negara mitra dagang Indonesia tetap tumbuh pada kuartal kedua tahun 2022 yang juga menjadi penyebab ekspor barang meningkat signifikan.

Mulai dari porsi ekspor Indonesia ke China tumbuh 0,4 persen di triwulan II-2022 sehingga mencapai 21,52 persen, lalu ekspor ke Amerika Serikat bertumbuh 1,6 persen atau total 9,89 persen.

Dengan kenaikan harga komoditas global dan mitra dagang yang masih tumbuh positif, ia mengungkapkan di triwulan II-2022 Indonesia mendapatkan windfall yang menyebabkan neraca perdagangan surplus sebesar 15,5 miliar dolar AS.

Baca juga: Indef: Momentum Lebaran penyelamat ekonomi di triwulan II 2022
Baca juga: Indef sorot konsumsi pemerintah tumbuh negatif triwulan I dan II 2022
Baca juga: BI: Akselerasi ekonomi triwulan II-2022 ditopang permintaan domestik