Indef: Jaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak stagflasi

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi harus terus diupayakan untuk menghindari terjadinya stagflasi.

Ia mengatakan potensi stagflasi bisa terjadi apabila pada sisa kuartal tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berturut-turut berada di bawah lima persen, bersamaan dengan meningkatnya inflasi.

"Meski tidak separah negara lain, dalam kondisi inflasi meningkat tajam dan pertumbuhan turun, walaupun relatif kecil, potensi stagflasi bisa terjadi," ujar Tauhid dalam webinar bertajuk Mengelola Inflasi dan Mengantisipasi Stagnasi Ekonomi oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) secara daring di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Indef: Teknologi pertanian perlu guna atasi gagal panen pangan pokok

Tauhid berharap anggaran fiskal terus dioptimalkan untuk menjadi bantalan dan menjaga daya beli masyarakat dari adanya berbagai gejolak di tingkat global.

Menurut dia, upaya menjaga daya beli masyarakat menjadi krusial karena merupakan pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang kemudian baru diikuti investasi dan perdagangan internasional.

"Bagaimana sekarang untuk pro growth dibanding menjaga inflasi, ini menjadi satu dilema," ujar Tauhid.

Kemudian, ia berharap pemerintah terus menjaga neraca perdagangan agar tetap surplus sehingga dapat menjaga momentum pertumbuhan ini. Menurut dia, momentum kenaikan harga komoditas global ini harus terus dioptimalkan, mengingat sewaktu-waktu harga bisa kembali normal.

“Surplus ini karena nilai komoditas per satuannya meningkat tajam. Jadi nilainya, bukan karena volume, ini harus dijaga momentumnya,” ujar Tauhid.

Baca juga: Indef proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,5 persen

Kemudian, Tauhid juga mendukung upaya Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan BI7DRR di level 3,5 persen pada Juli kemarin, sehingga momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

"Bagaimana menjaga investasi masyarakat tetap tumbuh melalui suku bunga pinjaman, konsumsi, investasi tetap rendah," ujar Tauhid.

Namun, Tauhid mengingatkan angka inflasi saat ini sudah semakin tinggi, karena angka inflasi tahunan pada Juli 2022 telah mencapai 4,94 persen year on year (yoy) atau tertinggi sejak Oktober 2015.

Baca juga: Indef: harga komoditas tinggi, permintaan masyarakat perlu dijaga

Baca juga: Indef: RI perlu tingkatkan kerja sama diplomasi global atasi inflasi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel