Indef: Singkong dan sagu belum mudah jadi alternatif gandum

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan bahan pangan alternatif seperti tepung singkong dan tepung sagu masih belum mudah untuk menggantikan gandum di Indonesia.

“Penggantinya gandum memang tidak mudah pertama, substitusi gandum itu baru sebagian kecil misalnya singkong untuk bahan baku makanan. Kalau pengganti bahan untuk produk mie instan dan roti belum banyak dan agak sulit, relatif terbatas,” kata Tauhid Ahmad saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Jumat.

Tauhid menyampaikan Indonesia tidak bisa menanam gandum karena iklim tropis yang tidak mendukung tanaman gandum untuk tumbuh di Tanah Air, sehingga Indonesia harus impor gandum dari negara-negara penghasil gandum.

"Konflik antara Rusia dengan Ukraina menjadi penyebab utama tingginya harga gandum pada level global. Dua negara tersebut ditambah Belarusia merupakan negara penghasil gandum terbesar di dunia. Negara-negara tersebut menahan stok gandum mereka untuk tidak dijual ke luar," katanya.
Baca juga: Rusia-Ukraina akan teken ekspor biji-bijian, redakan ancaman kelaparan

Untuk itu, ujar dia, selain hanya untuk keperluan tepung-tepung saja yang relatif terbatas, maka masih relatif kecil Indonesia mencari substitusi dari gandum.

Sedangkan komoditas beras, lanjutnya, Indonesia bisa mencari alternatif yang bisa dicari penggantinya, jadi belum ada solusi pas guna pengganti gandum untuk saat ini.

Ia juga mengingatkan adapun kenaikan biaya logistik seperti kenaikan bahan bakar yang cukup tinggi, sedangkan bahan bakar untuk perjalanan terutama untuk kapal-kapal laut, sehingga menyebabkan tambahan biaya bagi pengiriman gandum dari luar negeri.
Baca juga: Badan Pangan: perang Ukraina peluang Indonesia produksi gandum

Tauhid juga mengatakan harga gandum di Indonesia sudah naik di atas 26 persen sejak awal tahun 2022. Efek kenaikan harga gandum tersebut bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dengan kenaikan harga barang konsumsi sehari-hari terutama mie instan.

Direktur Eksekutif Indef juga mengatakan gandum bukan barang kebutuhan pokok strategis nasional, sehingga impor gandum sepenuhnya dilakukan oleh pihak swasta, sehingga kenaikan harga gandum global akan langsung dirasakan oleh masyarakat dan antara lain karena bahan penggantinya nyaris tidak ada

"Contohnya gorengan itu kan bahannya tepung (gandum), kalau diganti rasanya lain. Mungkin bisa menggunakan tepung beras, ada tapi tidak bisa banyak dan konsumen tidak akan senang," katanya.

Menurut data yang diperoleh dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Dalam Negeri, per 1 Juli 2022 harga komoditas tepung terigu meningkat sebesar 13,46 persen.

Pada awal tahun 2022, secara nasional harga tepung terigu tercatat hanya dari Rp10.400 per kilogram, kini menjadi Rp12.000 per kilogram.

Baca juga: Pemerintah harus antisipasi kelangkaan gandum dengan komoditas lokal

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel