INDEF soroti peningkatan impor produk pakaian jadi

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 1 menit

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan peningkatan impor produk pakaian jadi membuat industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam negeri semakin terancam.

“Serbuan impor ini sangat menganggu industri kecil dan menengah, karena akan menyulitkan pemasaran produk-produk dalam negeri,” kata Enny dalam webinar yang digelar di Jakarta, Kamis.

Enny mengatakan, kebijakan impor pakaian jadi menjadi sentimen buruk bagi investasi dan berdampak pada neraca perdagangan, sehingga berpotensi melemahkan konsumsi. Hal ini disebabkan karena Pemerintah masih memberlakukan tarif bebas bea masuk untuk sektor ini.

Ia mengkhawatirkan, jika kebijakan impor dipertahankan maka pertumbuhan industri TPT di tahun-tahun mendatang akan terus negatif.

“Jika industri TPT terus mengalami penurunan penjualan karena pandemi COVID-19, ditambah lagi dengan maraknya produk impor pakaian jadi, maka akan berimbas pada pemulihan ekonomi di masyarakat,” katanya.

Menurut dia, industri TPT di Indonesia melibatkan tenaga kerja yang sangat besar, sehingga diperlukan adanya keberpihakan dari Pemerintah di sisi regulasi.

“Pemerintah perlu memberikan perlindungan pasar dalam negeri dari impor yang berlebihan. Hal ini dinilai akan memberikan kepastian pasar bagi industri TPT dalam negeri, khususnya industri kecil dan menengah,” katanya.

Menurut data BPS, pada tahun 2020 ekspor tekstil senilai 10,55 miliar dolar AS, sementara impor senilai 7,20 miliar dolar AS. Meskipun surplus, INDEF menyoroti komposisi ekspor impor TPT tahun 2020 tersebut paling banyak didominasi adalah pakaian jadi, dibanding benang, serat, dan bahan baku tekstil lainnya.


Baca juga: Disdag Surabaya sosialisasikan larangan jual pakaian bekas impor
Baca juga: Impor pakaian besar meresahkan, ganggu industri fesyen di Jawa Timur
Baca juga: Menkeu sayangkan Indonesia masih jadi pasar pakaian bekas