India Ciptakan Helm Anti Polusi

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah India memperkenalkan helm yang mampu menghilangkan 80 persen polusi untuk menghadapi musim dingin.

Helm tersebut diproduksi Shellios Technolabs dengan suntikan dana pemerintah, seperti dikutip dari The Japan Times, Senin (29/8).

Udara kotor penuh polusi di ibu kota New Delhi menyulitkan pengendara melihat dan bernapas. Bahkan pada Desember – Februari lalu, pengendara harus menghadapi cuaca dingin, asap kendaraan, dan asap pembakaran tanaman yang turut membahayakan keselamatan pengguna jalan raya.

Pendiri Shellios Technolabs, Amit Pathak mengatakan orang bisa memiliki pembersih udara di dalam rumah dan kantor.

"Tapi orang-orang di atas motor, mereka tidak memiliki perlindungan sama sekali," ujarnya.

Itulah yang mendorong Pathak merancang helm yang dilengkapi alat untuk pemurnian udara, juga dilengkapi filter yang dapat diganti dan kipas yang ditenagai baterai yang bekerja enam jam dan dayanya dapat diisi melalui micro USB.

Helm tersebut diuji di jalan-jalan New Delhi.

"Pengujian di jalan-jalan New Delhi oleh laboratorium independen mengonfirmasi bahwa helm itu dapat menjauhkan lebih dari 80 persen polusi dari lubang hidung pengguna," jelas Pathak.

Hasil tersebut diperkuat hasil pengujian pada 2019 yang mengungkapkan helm itu mampu memotong tingkat partikel udara PM2.5 yang merusak paru-paru menjadi 8,1 mikrogram per meter kubik dari 43,1 mikrogram di luar pemakaian helm.

Helm produksi perusahaan Pathak didukung Kementerian Sains dan Teknologi India. Kementerian menyatakan helm itu menyediakan "angin segar bagi pengendara sepeda motor".

Helm anti polusi ini dijual seharga 4.500 rupee atau sekitar Rp834 ribu dan memiliki berat 1,5 kilogram.

Namun helm ini kurang peminat karena harganya, di samping bobotnya yang cukup berat. Ini mendorong Pathak bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membuat helm dengan bahan termoplastik sehingga helm menjadi lebih ringan.

Untuk meningkatkan produksi dan penjualan, Pathak melirik pasar Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]