Indonesia batalkan rencana untuk penutupan pulau Komodo

Jakarta (Reuters) - Indonesia telah memutuskan untuk tidak perlu menutup pulau Komodo tahun depan seperti yang direncanakan karena populasi komodo langka relatif stabil dan tidak terancam, menteri lingkungan mengatakan pada Senin (30/9).

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor B. Laiskodat mengatakan pada Juli bahwa pulau itu perlu ditutup untuk umum agar pariwisata tidak mengganggu proses kawin dan menetas naga tersebut dan untuk mengurangi risiko perburuan mangsa reptil, termasuk rusa, kerbau dan babi hutan.

Pulau itu akan dibuka kembali setelah sekitar satu tahun sebagai tujuan wisata premium, menurut rencana.

Tetapi Menteri Lingkungan dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan data menunjukkan populasi naga, spesies kadal terbesar, telah stabil selama lebih dari satu dekade.

"(Jumlah) Komodo di Pulau Komodo selama pengamatan 2002 hingga 2019 relatif stabil. Tidak ada ancaman penurunan," kata Bakar melalui pesan singkat.

Kementerian juga mengatakan bahwa pemerintah provinsi dan pusat akan bekerja sama untuk memperbaiki tempat-tempat wisata, meningkatkan pelatihan penjaga hutan dan menyediakan peralatan yang lebih baik untuk patroli, serta mendirikan pusat penelitian untuk komodo.

Rencana yang diumumkan pada Juli itu kontroversial baik di kalangan pecinta lingkungan dan industri pariwisata, serta di antara penduduk yang bergantung pada pengunjung untuk mata pencaharian mereka.

Lebih dari 176.000 wisatawan mengunjungi Taman Nasional Komodo pada 2018, dengan banyak pengunjung datang hanya untuk melihat naga, yang hanya ditemukan di alam liar di Indonesia timur.

Menurut data pemerintah, 1.727 komodo saat ini tinggal di pulau itu. Rinca, pulau lain di taman nasional, adalah rumah bagi 1.049 naga lainnya.

Pulau Komodo akan menjadi tujuan wisata konservasi khusus dengan pengaturan yang berbeda dibandingkan dengan Rinca, kata kementerian tersebut.

Laiskodat tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.