Indonesia Bergemuruh, Ahsan/Hendra Rebut Tahta Juara Dunia 2019

Bayu Adi Wicaksono

VIVA – Sang saka merah putih akhirnya kembali berkibar di arena Kejuaraan Dunia Bulutangkis atau BWF World Championships. Bendera pusaka kita itu dikibarkan dengan gagahnya di di arena St Jakobshalle di Basel, Switzerland, setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menekuk Takuro Hoki/Yugo Kobayashi di laga final.

Ahsan/Hendra kembali merebut tahta juara dunia setelah menghancurkan ganda putra Jepang itu di final. Ranking 2 dunia itu mengalahkan Takuro/Yugo dalam laga panjang selama 62 menit dengan angka 25-23, 9-21 dan 21-15

Dalam pertarungan yang dilangsungkan Minggu malam 25 Agustus 2019, sejak awal game pertama dimulai, baik Ahsan/Hendra dan lawannya bermain sangat hati-hati. Memang beberapa kali Ahsan melepaskan smes-smes mematikannya ke jantung pertahanan Takuro/Hoki. Hasilnya cukup baik, beberapa angka diraih.

Tapi, Takuro/Hoki juga tak mau kalah, mereka terus berusaha mengajak Ahsan/Hendra bermain tempo tinggi dengan bola-bola pendek. Alhasil, poin pun mengalir dalam posisi ketat. Bahkan di jeda turun minum saja Ahsan/Hendra cuma tertinggal dua angka dari ranking 13 dunia itu pada kedudukan 8-11.

Usai jeda Takuro/Yugo terus menekan Ahsan/Hendra. Hanya saja juara Alla England Open 2019 ini bukan pemain yang mudah diakali, terbukti meski sempat tertinggal 10-13, Ahsan/Hendra malah bisa menyamakan angka 13-13.

Setelah poin sama kuat, Takuro/Yugo kembali meningkatkan serangan dan mereka berhasil mendapatkan 3 angka beruntun untuk mengubah angka di papan skor jadi 13-16. Namun mendekati akhir game, Ahsan/Hendra kembali menyamakan angka 17-17 bahkan berbalik unggul 18-17 tepatnya di menit 16 usai mendapatkan 4 angka beruntun.

Di menit 19 Takuro/Hoki kembali unggul dan sempat mendapatkan kesempatan merebut kemenangan dalam kedudukan 19-20. Sayang, kesempatan itu sia-sia karena Ahsan/Hendra berhasil menyamakan angka 20-20.

Laga pun semakin menegangkan. Tercatat terjadi 4 kali deuce, dan akhirnya di menit 24, Ahsan/Hendra memenangkan pertarungan sengit itu dengan poin dramatis 25-23.

Pada game kedua, rupanya Takuro/Yugo mulai mengubah strategi. Kekalahan di game pertama cukup membakar semangat mereka, terbukti di awal game saja mereka sudah unggul 3 angka.

Bahkan, usai jeda mereka berhasil memperlebar jarak poin jadi terpaut 8 angka pada kedudukan 8-16. Akhirnya Ahsan/Hendra merelakan game kedua dimenangkan lawannya, di menit 40 Takuro/Yugo menutup game kedua dengan poin telak 9-21.

Di game penentu, setelah tertinggal 1 angka di awal game, Ahsan/Hendra tampil mengganas, mereka meningkatkan tempo serangan, lawan pun dibuat kewalahan, 6 angka beruntun mengalir cepat dan mereka unggul 6-1. Saatjeda pun mereka masih mempertahankan keunggulan 11-7.

Selepas pergantian lapangan, duo Jepang itu memperkecil ketertinggalan 11-9. Ahsan/Hendra kembali berhasil mempelebar keunggulan jadi 15-11 di menit 56.

Tapi sekali lagi, pengalaman dan takdir berkata lain. Meski lawan yang dihadapi sangat enerjik karena berusia lebih muda. Ahsan/Hendra tak gentar terbukti justru Takuro/Hoki yang dibuat kewalahan dengan strategi yang dipakai Ahsan/Hendra.

Akhirnya di menit sejarah baru tercipta, Ahsan/Hendra membuat arena laga bergemuruh setelah di menit menuntaskan perlawanan Takuro/Yugo dengan angka 21-15.

Ini merupakan gelar juara dunia ketiga yang berhasil didapatkan Ahsan/Hendra. Sebelumnya mereka jadi juara dunia di Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou dan Kejuaraan Dunia 2015 di Senayan, Jakarta.

Dan ini gelar juara dunia yang didapatkan Hendra sepanjang hidupnya. Sebab dia juga jadi juara dunia saat masih berpasangan dengan Markis Kido pada Kejuaraan Dunia 2007 di Kuala Lumpur Malaysia.

Apa yang diraih Ahsan/Hendra ini merupakan penghargaan terbesar dari mereka untuk seluruh rakyat Indonesia. Karena memang dalam 12 tahun ini cuma mereka yang mampu merebut medali emas Kejuaraan Dunia terbanyak.

Sementara itu, meski harus gagal jadi juara dunia, ini merupakan prestasi terbaik Takuro/Yugo di ajang ini. Kekalahan ini juga membuat Jepang harus mengubur sementara mimpi mereka untuk bisa mencetak sejarah merebut medali emas Kejuaraan Dunia. Seperti diketahui, sejak ajang ini pertama dihelat pada 1977, tak ada satupun ganda putra Jepang yang bisa naik ke podium juara.

Perlu diketahui, selama dua tahun terakhir ini China menguasai ganda putra dunia dengan merebut gelar juara dunia. Pada Kejuaraan Dunia 2017 melalui Liu Cheng/Zhan Nan dan pada 2018 melalui Li Junhui/Liu Yuchen.

Baca: Sadis, Pebulutangkis China Cuma Butuh 36 Menit Jadi Juara Dunia 2019