Indonesia Bersiap Sambut Endemi?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus Covid-19 di Indonesia berangsur-angsur bisa terkendali. Hal ini ditandai dengan status level 1 Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia.

Pemerintah sudah melonggarkan aturan pembatasan terkait pencegahan pandemi Covid-19 dengan memperbolehkan masyarakat untuk tidak memakai masker di ruang terbuka. Kini, Seluruh masyarakat sudah kembali beraktivitas secara normal.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril menyampaikan pandemi Covid-19 segera berakhir. Pernyataan ini mengutip informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"WHO mengatakan sudah ada tanda-tanda pandemi segera berakhir dan telah di depan mata," kata Syahril dalam konferensi pers virtual, Jumat (16/9).

Apakah Indonesia sudah siap menyambut endemi?

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, perubahan status pandemi ke endemi Covid-19 hanya bisa ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Saat ini pun status Covid-19 masih menjadi pandemi.

"Yang menentukan status pandemi sebuah penyakit adalah WHO dan sementara belum ada perubahan status tersebut," kata Wiku kepada merdeka.com, Sabtu (17/9).

Khusus di Indonesia, saat ini kondisi Covid-19 masih terkendali. Aktivitas sosial ekonomi sudah kembali normal. Namun masyarakat diminta untuk tetap waspada dan siaga agar tidak terinfeksi Covid-19.

"Di mana aktivitas sosial ekonomi sudah kembali normal. Pada kondisi seperti ini kewaspadaan terhadap Covid tetap harus dilakukan supaya kesiapsiagaan menjaga aktivitas yang aman tetap bisa terjaga," katanya.

Perlu Kesiapan Psikologis Menuju Endemi

Sementara itu, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa saat ini situasi Indonesia semakin membaik dalam hal mengendalikan Covid-19. Namun, untuk mengubah status dari pandemi ke endemi memerlukan banyak faktor, di antaranya terkait modal imunitas apakah sudah mampu memberikan perlindungan diri cari Covid-19.

"Apakah modal imunitas yang kita miliki saat ini akan mampu atau sudah mampu memberikan proteksi yang cukup berdurasi panjang dan juga berdurasi panjang itu ya misalnya satu tahun lebih. Apakah mampu mengatasi potensi-potensi adanya atau ancaman sub varian baru nah ini yang masih harus dijawab dengan data," katanya melalui pesan singkat kepada merdeka.com, Sabtu (17/9).

Dicky menjelaskan modal imunitas yang didapat dari vaksinasi ini terbukti bermanfaat semakin menurunkan tingkat keparahan dan kematian bagi seseorang yang terinfeksi Covid-19. Walau kenyataannya masih banyak masyarakat yang menjadi korban, namun angkanya semakin sedikit.

"Nah ini yang membuat kenapa kita meski harus berupaya membangun modal imunitas itu dengan potensi proteksi yang memadai tadi. Bukan hanya terlindung dari infeksinya tapi juga terlindung dari infeksi long covid," ujarnya.

Kemudian, bicara kesiapan terhadap berubahnya status atau fase pandemi Covid-19 ini menjadi endemi, kata Dicky, harus ada kesepakatan yang nantinya yang menjadi panduan global.

Tentang berapa jumlah kasus infeksi, jumlah kasus yang dirawat, jumlah kasus kematian, dalam artian masih ditolerir atau dianggap batas normal untuk kasus covid ini sehingga dianggap sudah dalam status endemi.

"Indikator kenormalan baru karena kita menyadari nggak mungkin ini hilang gitu tapi harus ada semacam, dalam hal ini, kesepakatan atau ketentuan global, ini berapa batasannya, karena setiap penyakit menular akan ada endemi itu. Ini yang akan kita juga tunggu arahan dari Badan Kesehatan Dunia," kata Dicky.

Dia juga mengingatkan jika Covid-19 menjadi endemi yang terpenting adalah kesiapan psikologis publik. Artinya ketika seseorang sakit Covid-19 sudah tidak merasa takut, pelayanan kesehatan sudah siap, obatnya tersedia ada. Kemudian rumah sakit juga tidak penuh dan tidak ada stigma atau pandangan buruk masyarakat bagi orang yang terinfeksi virus tersebut.

"Misalnya demam tifoid kan endemi di Indonesia atau tipes ya. Orang sakit tipes yah nggak jadi dijauhi kan nggak begitu, tapi karena sudah tahu sudah ada obatnya. nah bicara untuk kasus covid ke arah status kesiapan psikologis itu masih menjadi PR, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga dunia," ujarnya

"Karena obat efektif banget kan belum ada sebetulnya. Ada paxlovid dan beberapa obat antivirus, tapi masih ada keterbatasan-keterbatasan yang belum bisa menempatkan kita pada posisi yang kalau sakit itu oke aman lah ada obatnya. Tapi kalau sekarang kan ada obatnya harganya mahal, ini hal-hal yang masih jadi PR bersama. Artinya dunia pun belum terlalu siap," pungkasnya.

Syarat Pandemi Berakhir

WHO menyampaikan enam kebijakan yang perlu dilakukan seluruh negara untuk mengakhiri status pandemi Covid-19 di dunia. Pertama, cakupan vaksinasi Covid-19 pada kelompok prioritas seperti tenaga kesehatan perlu mencapai 100 persen, sedangkan pada lansia minimal memenuhi 97 persen.

Data Kementerian Kesehatan hingga 17 September 2022, total cakupan dosis pertama mencapai 204,31 juta peserta atau 87,07 persen. Dosis kedua 170,92 juta peserta atau 72,84 persen dan dosis ketiga atau booster mencapai 62.570.107 dosis atau 26,66 persen dari total keseluruhan sasaran 234,66 juta orang.

Selain vaksinasi, WHO juga merekomendasikan pelacakan kasus melalui testing dan sekuensing, termasuk untuk gangguan respiratori lainnya seperti influenza.

Untuk segera mengakhiri status pandemi, kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril seluruh negara juga dituntut memiliki kesiapan sistem kesehatan guna memberikan pelayanan pada pasien dan mengintegrasikan pelayanan Covid-19 dengan sistem pelayanan kesehatan primer di tingkat puskesmas maupun klinik.

Tujuannya, agar memudahkan masyarakat dalam mengakses pelayanan perawatan saat terinfeksi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Hal berikutnya adalah persiapan negara dalam menghadapi lonjakan kasus dengan memastikan seluruh fasilitas dan tenaga kesehatan yang dibutuhkan telah tersedia.

"WHO juga mendorong pencegahan dan pengendalian infeksi dengan cara melindungi petugas kesehatan dan pasien Covid-19 di fasilitas kesehatan," kata Mohammad Syahril.

Terakhir, penyampaian informasi terkait situasi Covid-19 secara jelas kepada masyarakat terkait perubahan apapun dalam kebijakan Covid-19 disertakan alasan. "Selain itu, perlu ada pelatihan nakes untuk mengidentifikasi dan menyampaikan informasi tersebut dan mengembangkan informasi yang berkualitas tinggi dalam format digital," jelasnya.

Meski pandemi segera berakhir, bukan berarti Covid-19 tiada. Syahril mengingatkan, Covid-19 akan tetap ada. Sehingga diperlukan penerapan protokol kesehatan seperti disiplin memakai masker dan melengkapi vaksinasi Covid-19.

Syahril menegaskan, berakhirnya situasi pandemi Covid-19 akan bergantung pada perilaku manusia. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. [yan]