Indonesia Bisa Jadi Pusat Produksi Kakao di Dunia, Asalkan...

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pemerintah berkomitmen meningkatkan produksi kakao nasional di masa depan. Saat ini, sekitar 1,6 juta hektare kebun kakao ada di seluruh di Indonesia dengan kemampuan produksi 0,7 juta ton.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi kekuatan kakao baru di dunia karena menjadi salah satu pusat produksi terbesar komoditas tersebut. Sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak perekonomian nasional.

Hal tersebut disampaikan Syahrul saat menjadi pembicara utama dalam webinar Sustainable Cocoa Production Program (SCPP) bertajuk A Decade of Partnership to Strengthen Cocoa Sustainibility hari ini.

Baca juga: Bantuan Subsidi Gaji Belum Diputuskan Lanjut pada 2021, Ini Alasannya

"Untuk bisa meningkatkan produski kakao ada sejumlah cara yang bisa dilakukan antara lain penanaman yang baik serta perluasan tanaman kakao di daerah yang potensial. Karena, hampir seluruh wilayah di Indonesia berpotensi untuk ditanami kakao,” ujarnya, Rabu 16 Desember 2020.

Syahrul menambahkan, prospek kakao di Indonesia sangat bagus meski perlu waktu 2,5 tahunan panen buah kakao. Dia pun berharap produksi kakao Indonesia bisa terus meningkat sehingga jumlah yang diekspor juga semakin besar lagi.

Potensi besar itu lanjut Syahrul tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Karena itu, dia optimistis UU Cipta Tenaga Kerja yang baru saja disahkan bisa menjaring investor di komoditas tersebut.

Sementara itu, Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, mengatakan, meskipun Indonesia sudah rutin melakukan ekspor kakao, namun, impor kakao juga terus meningkat tiap tahunnya sekitar 20 persen.

Menurut Musdhalifah, meningkatnya impor kakao dikarenakan produksi lokal yang turun karena serangan hama dan juga kebun kakao tua yang belum direvitalisasi. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perekonomian memberikan subsidi pupuk khusus yang sesuai dengan kondisi perkebunan kakao.

Program ini akan terus dilanjutkan pada 2021 dengan target produksi kakao bisa meningkat. Sehingga bisa menekan impor ke depannya.

“Kami juga sudah menyiapkan konsep yang intinya korporasi petani. Yang nantinya dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan kapasitas petani dan pendapatan petani,” jelas Musdhalifah.

Country Director Swisscontact Indonesia, Ruedi Nuetzi, menyakini, dengan dukungan State Secretariat for Economic Affairs (SECO), Swisscontact bermitra dengan 10 perusahaan kakao dan cokelat telah memberikan pendampaingan dan pelatihan kepada petani kakao, dimulai dari Aceh.

Sejak 10 tahun lalu, SCPP telah membantu hampir 165 ribu petani kakao di sejumlah daerah untuk membuat industri kakao menjadi lebih kompetitif dengan cara memperkenalkan model bisnis serta transparansi.

“Selama satu dekade, 90 persen indikator kunci berhasil dicapai, seperti melatih petani, manajemen pertanian serta keuangan dan juga praktik di kebun kakao. SCPP juga memastikan transfer pengetahuan diberikan kepada pihak yang tepat,” jelas Nuetzi.

SCPP bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani kakao sebesar 75 persen serta penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kakao sekitar 30 persen. Dalam mencapai tujuan di atas program memperkenalkan tiga dimensi People, Profit, Planet, yang berarti mendorong kegiatan secara holistik pada dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan.

Target hasil kegiatan SCPP adalah meningkatnya daya saing rantai nilai kakao yang inklusif dan peduli lingkungan. Indikator Kinerja Utama yang digambarkan tiga dimensi keberlanjutan di atas menunjukkan peran aktif SCPP dalam pencapaian 11 dari 17 indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals PBB. (ren)