Indonesia Butuh Kolaborasi Menuju Gelombang Baru Indonesia

Agus Rahmat
·Bacaan 3 menit

VIVA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) Anis Matta menilai, bangsa harus berkolaborasi jika ingin maju mengambil peran dalam percaturan global. Tidak terjebak pada paham kiri atau kanan, yang membelah.

Anis menjelaskan, sejarah Indonesia pernah berada dalam beberapa gelombang. Yakni pertama sebelum kemerdekaan, dengan munculnya Syarikat Dagang Islam oleh HOS Tjokroaminoto, lahirnya Muhammadiyah, NU hingga Sumpah Pemuda 1928. Kata dia, tujuannya adalah satu yakni merdeka.

Gelombang kedua, kata dia, adalah setelah merdeka muncul pemahaman bersama untuk melakukan pembangunan. Walau diakuinya, demokrasi kurang diperhatikan saat itu. Lahirnya reformasi, menurut dia adalah untuk mencari titik keseimbangan antara demokrasi dan pembangunan.

"Maka yang harus kita satukan seluruh komponen bangsa yang terbelah belah ke kanan ke kiri dan tengah," kata Anis, Rabu 5 Mei 2021.

Baca juga: Habib Rizieq Berhak Ajukan Penangguhan Penahanan Sebelum Putusan

Lebih lanjut dia mengatakan, jika berkaca pada gelombang sejarah Indonesia dari gelombang pertama (sebelum 17 Agustus 1945), gelombang kedua (masa pembangunan), maka yang harus dilakukan saat ini adalah gelombang ketiga. Saat gelombang pertama dan kedua, jelas dia, memiliki satu pemahaman bersama walau diantara para komponen bangsa memiliki perbedaan pandangan.

Maka menurutnya, sudah seharusnya bangsa keluar dari konflik apakah kelompok yang dicap kiri atau kanan.

"Kita ingin keluar dari konflik ini," katanya. Maka menurut dia, saat ini adalah momentumnya. Dia juga mengakui, ada juga yang tetap ingin memecah dengan pembelahan seperti antara Islam dan nasionalisme.

"Karena itu nilai utama yang kita sebarkan di Partai Gelora ini adalah nilai kolaborasi. Karena menurut saya inilah nilai yang paling kuat yang diwariskan yang kita sarikan dari Pancasila," jelas Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 itu.

Kolaborasi menurutnya adalah sari dari Pancasila. Karena semua eleman di dalam negara ini memiliki peran dan saling menghargai satu sama lainnya.

"Pancasila ini adalah platform kehidupan berbangsa yang menyatukan seluruh kelompok yang ada di Indonesia membuat mereka berbeda-beda tapi bisa bekerja sama. Dan karena itu semangat utama dari platform kebangsaan ini pada dasarnya adalah nilai kolaborasi," jelasnya.

Ibarat sebuah rumah, kata Anis, semua memiliki kamar yang memungkinkan untuk menjalankan aktivitas masing-masing. Tapi di rumah itu ada ruang tengah atau ruang keluarga. Semua berkumpul di situ, membicarakan banyak hal tetapi tetap saling menghormati.

"Di meja makan itu kita makan bersama, apa yang ada kita makan," katanya.

Menurut Anis, Indonesia harus membangun kekuatan agar mampu berbicara banyak di level global. Lemahnya posisi bangsa, menurutnya terlihat dari pandemi global COVID-19 saat ini. Karena semua berlomba menunjukkan kemampuan teknologinya melalui vaksin.

"Menyakitkan sekali bagi kita sebagai bangsa Indonesia bahwa vaksin ini virus ini datangnya bukan dari negara kita tapi, kita ikut menjadi korbannya. Yang lebih menyakitkan lagi setelah itu adalah bahwa kita ikut menjadi konsumen vaksin dari virus yang tidak berasal dari negara kita. sudah jadi korban habis itu Jadi konsumen. ini fakta yang menyakitkan bagi kita sebagai bangsa," jelasnya.

Maka dari itu, membangun narasi kolaborasi baginya adalah jalan baru untuk membuat sejarah seperti gelombang pertama dan kedua sejarah Indonesia. Ia mengaku awalnya pesimis bisa diterima masyarakat.

"Saya tahu ini tidak terlalu lazim dalam perpolitikan Indonesia," katanya.

Tapi setelah rekrutmen kader Partai Gelora, Anis mengaku generasi muda yang ikut karena ada kesamaan pandangan soal kolaborasi tersebut.

"Saya menemui narasi kami ini searah dengan mimpi-mimpi masyarakat," lanjutnya.

Capai 1 Juta Kader
Untuk itu, Anis mengatakan dirinya memilih untuk tetap berjuang di dunia politik yang telah ia tekuni selama puluhan tahun ini. Berbagai persoalan telah menempanya dalam dunia politik. Untuk itu, ia punya cita-cita Partai Gelora bisa membawa gelombang ketiga Indonesia, tanpa ada sekat kiri dan kanan.

"Hari ini kami jumlah kader kami sudah naik menjadi 163.000 anggota real time. Jadi kami bisa mengontrol perkembangan anggota kami di sini (media center) secara real time," katanya.

"Angka rekrutmen ini bisa mencapai 1 juta pada bulan Oktober yang akan datang," lanjutnya.