Indonesia Butuh Lebih dari 110 Juta Pekerja Digital pada 2025

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan cloud milik Amazon, Amazon Web Service (AWS) memprediksi Indonesia akan membutuhkan 110 juta pekerja digital baru pada 2025.

Jumlah tersebut diperlukan untuk mendukung perekonomian agar mampu selaras dengan tiap perubahan teknologi di masa depan.

Informasi ini merupakan hasil dari laporan riset AWS terbaru yang bertajuk "Unlocking APAC’s Digital Potential: Changing Digital Skill Needs and Policy Approaches" yang disusun oleh AlphaBeta.

Laporan tersebut menyajikan berbagai analisis mengenai jenis keahlian yang diterapkan pekerja masa kini dan perkiraan jenis keahlian digital yang dibutuhkan dalam lima tahun mendatang di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Salah satu temuannya, sebanyak 59 persen pekerja digital Indonesia saat ini belum mengoptimalkan penerapan kecapakan mereka di bidang komputasi awan (cloud computing). Padahal, di 2025, keahlian tersebut akan sangat dibutuhkan di pekerjaan mereka masing-masing.

Riset ini juga mengungkap, pekerja yang telah memiliki keahlian bidang digital baru mencapai 19 persen dari seluruh angkatan kerja Indonesia. Padahal pada 2025 kebutuhannya mencapai 110 juta.

Tak hanya itu, riset ini menyoroti pentingnya beragam keahlian bagi Indonesia seperti cloud, keamanan siber, data modeling skala besar, pengembang web, software, dan gim, serta dukungan operasi software yang paling dibutuhkan pada 2025.

Perlu Kembangkan Kecakapan

Suasana ajang AWS re:Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Liputan6.com/ Andina Librianty
Suasana ajang AWS re:Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Liputan6.com/ Andina Librianty

Nantinya, rata-rata pekerja Indonesia perlu mengembangkan tujuh kecakapan digital agar mereka bisa selaras kebutuhan teknologi di masa depan.

Adapun ketujuh keahlian tersebut mulai dari penggunaan platform komunikasi online, software untuk mendukung kolaborasi, dan kecakapan tingkat lanjut seperti desain arsitektur cloud.

Untuk mencapai 110 juta pekerja digital, dibutuhkan sekitar 946 juta pelatihan kecakapan digital.

Diungkapkan, saat ini 48 persen pekerja digital di sektor manufaktur belum menguasai kecakapan di bidang pemodelan data skala besar. Nantinya, di 2025 AWS memprediksi para pekerja membutuhkan jenis keahlian tersebut.

Untuk mendukung angkatan kerja Indonesia mengembangkan kecakapan bidang cloud, AWS telah bekerja sama dengan Kemdikbud. Kerja sama ini menjadi bagian dari inisiatif Merdeka Belajar, yakni melalui revitalisasi kurikulum di 5 universitas terkemuka di Indonesia.

Kelima universitas itu akan mengintegrasikan konten edukasi yang dirancang AWS ke dalam kurikulum. Dengan begitu, siswa bisa mempelajari dasar komputasi awan dan teknologi terkait seperti keamanan siber, analitik data, machine learning, hingga IoT.

Komitmen AWS bantu Indonesia

"Riset yang kami prakarsai ini menyoroti adanya kebutuhan untuk meningkatkan penguasaan teknologi cloud, bahkan di sektor nonteknologi seperti manufaktur," kata Managing Director for ASEAN Worldwide Public Sector AWS.

Ia mengatakan, AWS memiliki komitmen mendukung penyiapan dan pembekalan mahasiswa dan pekerja di Indonesia dengan kecakapan di bidang cloud. Dengan begitu, mereka bisa mengikuti perkembangan dan dinamika di industri.

AWS juga menghadirkan serangkaian kegiatan pelatihan gratis yang mencakup lebih dari 80 kursus gratis dalam Bahasa Indonesia, laboratorium interaktif, dan sesi pelatihan virtual.

AWS juga memberikan konten pembelajaran mandiri secara online, untuk cloud engineer, machine learning scientist, cybersecurity specialist, dan data scientist.

(Tin/Ysl)