Indonesia dan Malaysia Akan Batasi Ekspor CPO

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Merdeka.com
    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    MERDEKA.COM. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, sejak Presiden SBY mengeluarkan Instruksi Presiden No.15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan, armada perikanan nasional justru bertumpuk di perairan kepulauan. …

TEMPO.CO, Jakarta -Pemerintah Indonesia dan Malaysia akan membatasi volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil - CPO). Hal ini dilakukan untuk menyikapi terus menurunnya harga komoditas CPO di pasar dunia.

»Indonesia-Malaysia sepakat mengatur volume ekspor agar harga CPO tetap stabil,” kata Menteri Pertanian Suswono dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin, 8 Oktober 2012.

Malaysia dan Indonesia menguasai 90 persen pasar CPO dunia. Hampir 70 persen lahan pertanian Malaysia untuk tanaman kelapa sawit, sementara Indonesia, hampir 4,6 juta petani bergantung pada komoditas ini. Artinya, kata Suswono, komoditas CPO berkontribusi besar bagi Indonesia dan Malaysia.

Untuk mencegah harga CPO semakin turun di pasar dunia, kedua negara akan membuat mekanisme pembatasan suplai. Sayangnya, teknis pembatasan ini belum diputuskan bersama karena kedua menteri pertanian harus membicarakannya terlebih dahulu pada pemerintah masing-masing.

»Selama ini harga CPO ditentukan oleh konsumen padahal produksi dikuasai Indonesia dan Malaysia. Kami akan atur harga dan produksi agar ada kesepahaman. Teknisnya masing-masing akan dibicarakan dalam sidang kabinet,” kata Suswono.

Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Tan Sri Bernard Dompok mengatakan harga CPO saat ini tidak menguntungkan produsen sawit. Saat ini harganya sekitar RM 2.200 per ton. »Ini tidak bisa menutupi biaya produksi,” katanya dalam kesempatan sama. Bulan lalu, ekspor Malaysia tercatat 2,1 juta ton CPO.

Menyikapi turunnya harga CPO di pasar dunia, lanjut Dompok, Malaysia telah merencanakan beberapa langkah. Pertama, Malaysia akan mengurangi luas lahan tanaman kelapa sawit. Kedua, Malaysia akan melakukan replanting (peremajaan) perkebunan kelapa sawit seluas 300 ribu hektare. Replanting dilakukan untuk tanaman kelapa sawit yang sudah berumur di atas 25 tahun.

Produksi CPO Malaysia tahun lalu tercatat 18,9 juta ton dengan luas areal tanaman 5 juta hektare. Tahun ini Malaysia akan mengurangi produksi hingga hanya 18 juta ton CPO. Sedangkan Indonesia memproduksi CPO 22,5 juta ton dengan luas lahan 8,9 juta hektare. Berbeda dengan Malaysia yang akan mengurangi produksi, Indonesia justru menargetkan produksi CPO tahun ini naik menjadi 22,6 juta ton.

Ia melanjutkan sementara ini pihaknya juga tengah menggenjot penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel. Saat ini, penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel baru 200 ribu ton, ke depan diharapkan bisa mencapai 500 ribu ton.

Suswono kembali menambahkan, penurunan harga CPO dipengaruhi oleh krisis di Eropa dan Cina. Karena itu, dalam beberapa minggu ini pemerintah akan melihat perkembangan krisis untuk menentukan mekanisme pengaturan harga CPO di pasar dunia. »Kami akan mendorong hilirisasi untuk penguatan harga CPO di masa mendatang. Di samping itu juga antisipasi jangka panjang akan beralih ke biodisel, itu sedang kami rancang,” ucapnya.

Direktur Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Rismansyah Danasaputra mengatakan, harga CPO di pasar dunia saat ini sudah turun signifikan. »Sekarang harganya sekitar US$ 700-US$ 800 per ton,” jelasnya.

Padahal, katanya, harga CPO pada Agustus lalu masih di kisaran US$ 920 per ton, sementara harga bulan sebelumnya adalah US$ 943 per ton. Sedangkan untuk penyerahan bulan September, harga CPO melemah hingga US$ 896 per ton.

ROSALINA

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...