Indonesia-Denmark tegaskan kembali kemitraan energi hijau

·Bacaan 2 menit

Menteri ESDM Arifin Tasrif menerima kunjungan kerja Menteri Luar Negeri Denmark Jeppe Sebastian Kofod yang menegaskan kembali kemitraan energi hijau tentang percepatan energi terbarukan baik di pusat maupun daerah.

Pertemuan ini merupakan bagian dari kunjungan kerja selama tiga hari di Jakarta dan Surabaya.

"Acara hari ini menandai tonggak baru untuk hubungan bilateral antara Indonesia dan Denmark pasca-COP26, dan karenanya, memperkuat kemitraan energi yang sudah erat antara kedua negara," kata Arifin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Arifin menyampaikan Forum Energi B2B Indonesia-Denmark adalah platform yang tepat bagi entitas bisnis untuk mengeksplorasi prospek dan inisiatif pengembangan energi terbarukan dan efisiensi energi.

Menurutnya, Denmark telah menjadi mitra penting dalam perjalanan Indonesia menuju transisi energi.

Selain program bilateral yang sedang berjalan, seperti Indonesia-Denmark Partnership Program (INDODEPP) dan Sustainable Island Initiatives (SII), beberapa perusahaan energi Denmark juga berencana untuk berinvestasi di Indonesia.


Baca juga: Dukung ekonomi hijau, RI gabung dengan Clean Energy Demand Initiative


Proyek-proyek tersebut akan dilaksanakan oleh Copenhagen Infrastructure Partners 700 juta dolar AS, Vestas 400 juta dolar AS, dan Howden 40 juta dolar AS.

Bagi Indonesia, penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi menjadi sektor penentu pencapaian target iklim Indonesia. Denmark dengan pengalamannya dalam transisi energi hijau berkomitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam mencapai tujuan tersebut.

Di bawah kemitraan kerja sama bilateral, Denmark telah menyelesaikan laporan studi mereka tentang renewable energy pipeline, serta hasil pra-studi kelayakan pada proyek energi baru terbarukan di Sulawesi Utara dan Riau.

"Studi-studi ini diselesaikan untuk menjembatani kesenjangan antara Rencana Energi Nasional dan proyek energi baru terbarukan provinsi. Dalam kemitraan tingkat provinsi lainnya, saya mencatat bahwa pemerintah Denmark juga mendukung transisi energi di Nusa Tenggara Barat. Saya berharap proyek kemitraan semacam ini dapat direplikasi di provinsi atau daerah lain di Indonesia," tambahnya.

Dalam pertemuan itu, Menteri Arifin mengaku telah melakukan pembicaraan bilateral dengan Menteri Kofod untuk membahas masalah dekarbonisasi dan komitmen pasca-COP26.


Baca juga: Di forum G20, Menteri ESDM paparkan langkah RI menuju ekonomi hijau


Mereka sepakat tentang pentingnya kolaborasi internasional untuk mengejar kepentingan bersama dalam transisi energi.

Menteri Kofod menjelaskan pentingnya transisi energi hijau dan ini merupakan pesan utama yang disampaikan pada COP26.

Menurutnya, kedatangan delegasi Denmark ke Indonesia merupakan wujud dan tindakan langsung kemitraan antara Denmark dengan Indonesia untuk melakukan transisi energi di tingkat nasional maupun provinsi.

Delegasi Denmark mempresentasikan tiga laporan terkait langkah-langkah transisi energi hijau.

Laporan pertama tentang "Indonesia's renewable energy pipeline" yang menunjukkan bahwa untuk mencapai target 23 persen energi terbarukan pada tahun 2025 dapat dijangkau oleh sektor ketenagalistrikan.

Laporan kedua tentang "pre-feasibility studies for renewable energy" di dua provinsi di Indonesia, yaitu Sulawesi Utara dan Riau. Hasil laporan ini menunjukkan ada peluang bisnis untuk pengembangan energi terbarukan di kedua provinsi.

"Denmark berencana akan memperkuat kerjasama dengan provinsi lain dengan menambahkan lebih banyak provinsi sebagai mitra dalam Sustainable Island Initiative," ujar Kofod.


Baca juga: Begini strategi Indonesia pacu peningkatan porsi energi terbarukan

Baca juga: Menteri ESDM: RI akan fokus gunakan energi hijau produksi dalam negeri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel