Indonesia dinilai harus jadi "trendsetter" sektor perikanan

·Bacaan 2 menit

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi(Kemenko Marves) Basilio Dias Araujo menilai Indonesia harus jadi trendsetter (pencipta tren) di sektor kelautan dan perikanan.

Hal itu lantaran Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, utamanya sektor perikanan.

"Tidak ada negara yang lebih besar dari kita. Maka jangan pernah mencoba mencari contoh ke negara lain, kita harus menciptakan contoh, kita harus menjadi trendsetter, " katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Basilio, dalam webinar yang digelar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya itu, menuturkan Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara yang memiliki potensi perikanan tangkap di dunia. Selain potensi ikan yang kaya, keistimewaan lain yang dimiliki ialah adanya beberapa wilayah pengolahan perikanan.

"Ada peluang, tinggal kita memanfaatkannya,” ujarnya.


Baca juga: Kontribusi ekonomi maritim ditargetkan capai 12,5 persen pada 2045

Dengan potensi itu, maka Indonesia juga memiliki potensi pasar yang cukup besar baik di dalam negeri maupun internasional untuk perikanan tangkap laut serta perikanan budidaya.

Salah satu yang menjanjikan yaitu potensi pasar tuna global. Berdasarkan data Statistics International Trade Centre dan The United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade), nilai ekspor tuna Indonesia pada 2018 masuk peringkat ke enam dunia, setelah Thailand, Ekuador, Spanyol, China, dan Taiwan.

"Thailand bisa menjadi eksportir tuna, seharusnya kita bertanya-tanya atau kenapa ekspornya bisa lebih banyak dari kita?" imbuhnya.

Basilio menyebut potensi perikanan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, cukup menjanjikan dibandingkan daerah lain di provinsi tersebut.


Baca juga: Pemerintah dorong pengembangan sistem rantai dingin industri perikanan

Posisi Malang menghadap titik WPP 573 atau wilayah perairan yang dominasi oleh ikan pelagis besar seperti tuna.

Basilio berharap potensi tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal, termasuk dengan melibatkan perguruan tinggi setempat.

"Malang memiliki Daerah Penangkapan Ikan mencapai 219.000 km persegi. ​Menangkap ikan tuna saja kita akan dapat triliunan rupiah. Di sinilah butuh dukungan Universitas Brawijaya, bagaimana memperkuat wilayah-wilayah kita untuk bisa membantu meningkatkan hasil tangkapan nelayan," ujarnya.


Baca juga: Pandemi, Jubir KKP sebut usaha perikanan tangkap tak surut

Baca juga: Pakar oseanografi: Perikanan tangkap stagnan, masa depan di budi daya

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel