Indonesia Duduki Posisi Kedua Sebagai Negara dengan Keuangan Syariah Paling Maju

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Potensi ekonomi keuangan syariah di Indonesia sangat besar. Hal ini tercermin dari laporan yang dikeluarkan Refinitiv Islamic Finance Development Report 2020 menempatkan Indonesia ranking kedua sebagai Negara Paling Maju dalam Keuangan Syariah atau Islam atau Most Developed Countries in Islamic Finance.

"Kita rangking ke-2 secara global sebagai terutama didukung oleh tingginya riset dan kelengkapan regulasi serta industri keuangan syariah serta mungkin perkembangan bisnis keuangan syariah itu sendiri," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, dalam acara Sharia Business & Academic Sinergy, yang digelar virtual, Selasa (29/12/2020).

Indonesia berada di peringkat kedua, setelah negara tetanga Malaysia. Kemudian di bawah Indonesia atau di urutan ketiga ada Bahrain, keempat UAE dan kelima Saudi Arabia.

Sementara itu, dalam laporan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2020/2021, Indonesia juga ditempatkan pada ranking global keempat untuk sektor Islamic Economy dan ranking keenam untuk indikator Islamic Finance.

Untuk sektor Islamic Economy, Indonesia masih tertinggal di bawah negara Malaysia, Saudi Arabia dan UAE. Sementara untuk sektor Islamic Finance Indonesia berada di bawah Malaysia, UAE, Saudi Arabia, Jordan, dan Bahrain.

"Kita harus bekerja keras untuk menjadi nomor satu di dunia. Kami yakin itu bisa Indonesia mempunyai potensi yang besar penduduknya banyak. Sehingga catatannya bagaimana SDM kita liding dan kita juga sinergi bersama-sama," jelas dia.

Wimboh menambahkan, beberapa segmen ekonomi keuangan syariah masih harus menjadi perhatian. Sejauh ini, pemerintah bersama otoritas juga sudah memilih beberapa segmen sebagai pengungkit, diantaranya adalah destinasi wisata halal.

"Ini juga menjadi perhatian kita dan ini juga akan menjadi yang terbaik bahkan muslim travel index 2019 Indonesia merupakan negara pertama yang diterbitkan suku atau grand suku," jelas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Sri Mulyani: Aset Keuangan Syariah Capai Rp 1.710 Triliun di September 2020

Gaya Menteri Keuangan Sri Mulyani tampil berjilbab di Aceh (Foto: Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
Gaya Menteri Keuangan Sri Mulyani tampil berjilbab di Aceh (Foto: Kementerian Keuangan Republik Indonesia)

Sebelumnya, total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp 1.710,16 triliun pada September 2020. Dari jumlah tersebut belum menghitung saham syariah. Dengan nilai tersebut, maka market share industri keuangan syariah di angka 9,69 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, aset keuangan syariah tersebut meliputi aset perbankan syariah sebesar Rp 575,85 triliun, industri keuangan bukan bank syariah sebesar Rp 111,44 triliun dan pasar modal syariah sebesar Rp 1.022,87 triliun.

"Selama tiga dasawarsa terakhir sejak berdirinya bank syariah pertama di Republik Indonesia yaitu pada tahun 1992, keuangan syariah berkembang cukup mengesankan," katanya dalam acara Sharia Business & Academic Sinergy, yang digelar virtual, Selasa (29/12/2020).

Bendahara Negara itu menyampaikan, yang cukup menarik di dalam kondisi yang sangat menekan akibat Covid-19, intermediasi perbankan nasional cenderung mengalami penurunan. Namun kinerja perbankan syariah justru cenderung stabil dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional.

"Ini sering terjadi di dalam suasana krisis yang terjadi tahun 2008 yang lalu," sebut dia.

Sampai dengan September 2020 aset perbankan syariah justru tumbuh sebesar 10 97 persen, dibandingkan perbankan konvensional yang pertumbuhannya hanya 7,77 persen. "Artinya pertumbuhan aset perbankan syariah lebih tinggi," imbuh dia.

Demikian juga dengan dana pihak ketiga yang tumbuh 11,56 persen. Sedikit di atas kenaikan dana pihak ketiga dari perbankan konvensional yang tumbuh 11,49 persen. Sementara untuk penyaluran pembiayaan atau kredit perbankan syariah tumbuh 9,42 persen. Ini jauh lebih tinggi karena pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang mengalami penurunan yaitu hanya tumbuh 0,55 persen.

"Artinya bahwa industri terutama perbankan syariah memang memiliki posisi yang cukup stabil dan memiliki juga loyalitas dari keseluruhan ekosistemnya," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini: