Indonesia fasilitasi magang peneliti negara Islam kembangkan vaksin

Kementerian Kesehatan RI memfasilitasi kesempatan magang kepada empat peneliti dari Mesir dan Pakistan di Indonesia untuk meningkatkan kapasitas pengembangan vaksin dan produk bioteknologi di sejumlah negara Islam.

"Ini kerja sama negara Islam untuk melakukan penelitian dan pengembangan serta kerja sama laboratorium penelitian vaksin," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat dijumpai dalam acara Opening Ceremony COMSTECH-OIC Fellowship Program dan Peresmian Laboratorium Jejaring OIC COE, di Gedung Sujudi Kantor Kemenkes RI, Jakarta, Kamis.

Negara Islam yang dimaksud tergabung dalam anggota Organisasi Kerja Sama Islam (Organisation of Islamic Cooperation/OIC) yang beranggotakan 53 negara.

Resolusi the 6th Session of the Islamic Conference of Health Ministers (ICHM) tahun 2017 telah menunjuk Indonesia sebagai Organization of Islamic Cooperation - Center of Excellence (OIC - CoE) on Vaccine and Biotechnology Products atau pusat riset vaksin dan produk bioteknologi OIC.

Organisasi itu dibentuk dalam rangka mendukung penelitian dan pengembangan vaksin dan produk bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan anggota OIC.

Berdasarkan penunjukan tersebut, pada 2018 OIC CoE secara resmi diluncurkan di Jakarta oleh Menteri Kesehatan dengan PT Biofarma sebagai OIC CoE Laboratory.

Aktivitas dari OIC CoE meliputi capacity building dalam produksi dan quality control vaksin, riset pengembangan vaksin inovatif, pengembangan vaksin di antara negara anggota OIC, serta riset dan pengembangan untuk produk bioteknologi lainnya.

Baca juga: Kemenkes alokasikan belanja Vaksin Indovac dan Inavac pada 2023

Kemenkes telah mengajukan penempatan magang peneliti dari Mesir dan Pakistan di Biofarma yang merupakan OIC CoE Laboratory.

Program ini merupakan bagian dari COMSTECH Fellowship For Research and Advance Training in Virology and Vaccine Technologies yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peneliti di negara OIC.

Menkes Budi berharap kegiatan magang itu memberi manfaat untuk menggali setiap potensi yang dimiliki Indonesia untuk selanjutnya diteliti dan dikembangkan untuk meningkatkan produksi vaksin dan bioteknologi kesehatan.

“Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, sehingga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan banyak data, untuk selanjutnya diteliti dan dikembangkan dalam kerangka meningkatkan sistem kesehatan global untuk menghadapi masalah kesehatan saat ini dan di masa depan,” katanya.

Muhammad Iqbal Qodhary, Coordinator General COMTECH ingin kerja sama yang telah berjalan dengan baik antara OIC dengan COMSTECH Fellowship For Research and Advance Training in Virology and Vaccine Technologies terus dipertahankan dan ditingkatkan.

“Kami sangat senang dengan kolaborasi ini, terima kasih kepada Biofarma yang telah memfasilitasi program fellowship ini. Kita harapkan kerjasama ini bisa terus berlanjut dan diperkuat,” katanya.

Rangkaian COMSTECH Fellowship program tersebut dilaksanakan selama lima pekan pada 30 Agustus-4 Oktober 2022 yang dilaksanakan di entry briefing di Jakarta dan kunjungan industri vaksin, produk bioteknologi dan kanker (PT Etana Biotechnologies Indonesia, PT Kalbio Global Medika, dan PT Fonko International Pharmaceuticals).

Magang di fasilitas PT Bio Farma, Bandung dan laboratorium sentral Universitas Padjajaran, Jatinangor yang diisi dengan pemberian materi serta workshop untuk memahami produksi vaksin mulai dari upstream to downstream dan proses quality control.

Peserta magang juga diagendakan mengunjungi fasilitas pengembangan Vaksin Merah Putih (VMP) di Universitas Airlangga, Surabaya.

Adapun laboratorium jejaring OIC-CoE terdiri atas Laboratorium R&D PT Biofarma, Laboratorium Sentral, Universitas Padjadjaran, Pusat Riset Teknologi Pengembangan Vaksin, LPT Universitas Airlangga, Laboratorium Bioanalisis Universitas Indonesia – Daewoong Foundation, Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Universitas Indonesia

Laboratorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Universitas Gadjah Mada, Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT), Universitas Gadjah Mada, Pusat Riset Vaksin dan Obat (PRVO), Pusat Organisasi Riset Kesehatan, BRIN, Laboratorium R&D PT Kalbio Global Medika, dan Laboratorium R&D PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Baca juga: Kemenkes akselerasi 100 juta peserta booster mulai awal 2023