Indonesia Kekurangan Insinyur Berkompetensi

·Bacaan 2 menit

VIVAMenteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bicara soal kurangnya insinyur dengan kompetensi yang ada di Indonesia. Hal itu sesuai dengan pernyataan Ketua Umum persatuan insinyur Indonesia, Heru Dewanto.

Kata Airlangga, selain standarisasi, juga harus terus dilakukan, agar lulusan fakultas teknik lebih bisa bersaing di dunia kerja.

"Hari ini kita sudah memiliki dua puluh ribu insinyur profesional yang bisa disetarakan dengan insinyur dunia. Setiap tahunnya ada dua ratus ribu lulusan fakultas teknik. Dari dua ratus ribu lulusan sarjana teknik di seluruh Indonesia, baru sekitar dua puluh ribu yang memiliki kompetensi," ujar Airlangga saat menjadi pembicara, Rabu 25 Agustus 2021.

PII yang keberadaannya diamanatkan di undang-undang dan bukan lagi sekedar organisasi profesi, menurut Heru Dewanto, dia terus berperan aktif dalam mendorong standarisasi lulusan fakultas teknik.

Kata dia, saat ini standarisasi nasional dan standarisasi internasional politeknik yang ada di Indonesia, sudah dilakukan oleh badan tetap PII.

Heru menambahkan, hal itu adalah kesepakatan dari World Federation of Engineering Organizations (WFEO), yang merupakan organisasi tingkat internasional yang mewadahi insinyur.

"World Federation of Engineering Organizations sepakat, insinyur harus menyelesaikan masalah-masalah dunia, karena untuk menyelamatkan bumi kita adalah teknologi, dan teknologi adalah produk dari insinyur," ujar Heru.

Heru dalam pemaparannya menjelaskan, bahwa dengan perkembangan teknologi saat ini dan untuk menyongsong Revolusi Industri 5.0, peranan insinyur juga sangat diperlukan.

Dia mengatakan, bahwa dalam revolusi tersebut dibutuhkan praktis yang cakap di bidang engineering science, biomedical engineering, nano teknologi serta kecerdasaan buatan.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, talent gap Indonesia terbesar ada di bidang hospitality and tourism, infrastructure development,sustainable engineering, sustainable management of natural commodities, manufacturing, modern agriculture dan pendidikan. Empat dari delapan tema tersebut,nya berkaitan dengan ke-insinyur-an.

Gap atau selisih tersebut menurut mengganggu pertumbuhan Indonesia.

"Jadi wajar kalau ada pertanyaan, apakah ada broken chain. Ada ketidakselarasan antara kompetensi yang diajarkan di kampus, dengan kebutuhan dunia kerja," katanya.


Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Djagal Wiseso Marseno, dalam acara tersebut menyampaikan secara keseluruhan dunia kampus akan berubah.

Semua pihak harus bisa mengantisipasi, termasuk UGM dan fakultas teknik UGM.

"Dunia engineering juga. Kita lihat China, sering kita dengar China membangun rumah sakit hanya dalam satu hari, membangun jembatan juga demikian, ini juga harus kita antisipasi," ucap dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel