Indonesia larang pengunjung dari China di tengah protes evakuasi

Oleh Agustinus Beo Da Costa dan Gayatri Suroyo

JAKARTA (Reuters) - Indonesia, Minggu, melarang masuknya pengunjung yang telah berada di China selama 14 hari karena kekhawatiran tentang virus corona, ketika warga yang dievakuasi dari Provinsi Hubei menghadapi protes oleh beberapa warga saat mereka pulang ke Tanah Air.

Belum ada kasus yang dikonfirmasi dari virus corona di Indonesia, tetapi negara tetangga Filipina, Minggu, melaporkan kematian pertama dari virus di luar China.

Indonesia juga akan menghentikan sementara penerbangan ke dan dari daratan China mulai Rabu. Keputusan ini akan segera melarang pengunjung yang telah berada di China selama 14 hari untuk masuk atau transit, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pada konferensi pers yang disiarkan televisi.

Lion Air Group Indonesia telah menghentikan penerbangannya ke China.

Marsudi juga meminta orang Indonesia untuk tidak bepergian ke China selama epidemi virus corona.

Di China, virus ini telah menewaskan 304 orang dan menginfeksi lebih dari 14.000. Lebih dari 20 negara dan wilayah lain di luar daratan China juga telah melaporkan kasus.

Sebelumnya pada hari Minggu, pemerintah menerbangkan 243 orang Indonesia dari Provinsi Hubei China, pusat virus, dan menempatkan mereka di bawah karantina di sebuah pangkalan militer di pulau Natuna Besar yang berpenduduk jarang di barat laut Kalimantan.

Marsudi mengatakan total 285 orang, termasuk awak pesawat dan tim yang terlibat dalam evakuasi, harus tinggal di sana selama 14 hari di bawah pengawasan.

Meskipun dia mengatakan semua dilaporkan sehat, kehadiran mereka di pulau itu membuat beberapa warga khawatir.

Sekitar 200 orang membakar ban selama unjuk rasa pada hari Minggu, juru bicara kepolisian daerah Harry Goldenhard mengatakan melalui telepon.

"Apa yang dilakukan pemerintah telah ditimbang dan direncanakan dengan hati-hati. Lokasi observatorium jauh dari rumah mereka, sekitar 6 km (3,7 mil) jauhnya," katanya.

"Virus tidak akan menyebar," kata Goldenhard.