Indonesia Lebih Baik dari Singapura soal Pemulihan GDP Imbas Covid-19

·Bacaan 2 menit
Pemandangan gedung-gedung bertingkat di Ibukota Jakarta, Sabtu (14/1). Hal tersebut tercermin dari perbaikan harga komoditas di pasar global. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut Indonesia telah melewati krisis ekonomi. Tercermin dari GDP yang tumbuh pada kuartal II-2021 telah melebihi capaian sebelum terjadi pandemi Covid-19 di kuartal II-2019.

"Sebelum Covid-19 GDP Indonesia sebesar Rp 2.735 triwulan pada Q2-2019 dan Q2-2021 sudah mencapai Rp 2.773 triwulan. Ini angka yang lebih tinggi dari sebelum krisis," kata Sri Mulyani dalam Kongres ISEI XXI dan Seminar Nasional 2021, Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Capaian ini juga meningkat dibandingkan perolehan pada kuartal II-2020 yang hanya mencapai Rp 2.590 triliun. Lebih rendah dari capaian pada kuartal II-2019.

"Ekonomi kita sempat merosot pada Q2-2020 sehingga GDP kita terkontraksi menjadi Rp 2.590 triliun," kata dia.

Lebih lanjut Sri Mulyani melanjutkan berbagai negara yang mengalami kontraksi ekonomi tidak sepenuhnya bisa mengalami fase pertumbuhan cepat. Buktinya, Malaysia, Filipina dan Singapura capaian GDP masih belum melewati fase sebelum Covid-19.

"Malaysia, Filipina dan Singapura, GDP mereka belum melewati masa pra Covid-19," kata dia.

Kondisi ini berbeda dengan Amerika Serikat yang GDP-nya sudah berhasil melewati masa sebelum Covid-19. Hal ini didorong dengan kemampuan fiskal yang dimiliki negara adidaya tersebut.

"Amerika negara baku dengan kemampuan fiskalnya sudah melewati pra Covid-19 level," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Presiden Jokowi Ungkap Sinyal Kuat Pemulihan Ekonomi Global

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan, pemulihan ekonomi dunia di tengah pandemi Covid-19 sudah mulai terasa. Hal tersebut terbukti dengan aktivitas manufaktur yang mulai tumbuh, ekspor-impor menggeliat, serta kenaikan harga komoditas.

"Sinyal pemulihan ekonomi global sudah sangat terasa baik dari aktivitas manufaktur global yang tumbuh positif, ekspor impor yang menggeliat hingga harga komoditas yang mengalami peningkatan," kata Jokowi di acara Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Pemulihan ekonomi global tersebut tak lain karena sinergi yang dilakukan oleh berbagai pihak. "Kita beryukur sinergi berbagai pihak untuk pain sharing, baik kebijakan fiskal maupun moneter maupun kebijakan rem dan gas antara ekonomi dan kesehatan," jelasnya.

Presiden Jokowi berharap, perekonomian nasional dan global akan terus membaik dalam waktu dekat. Mengingat sejumlah lembaga ekonomi dunia juga sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ke arah positif.

Satu di antaranya adalah International Monetary Fund (IMF). Lembaga dunia ini memproyeksi pertumbuhan ekonomi di tingkat global sebesar 6,0 persen dan 4,9 persen untuk tahun 2021 dan 2022.

"Kita berharap perekonomian nasional dan global akan terus membaik dalam waktu dekat ini. Berbagai proyeksi lembaga internasional memperkirakan bahwa ekonomi global tahun ini dan tahun depan akan membaik," jelasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel