Indonesia masih menghadapi masalah status gizi masyarakat

·Bacaan 3 menit

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengemukakan Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan kesehatan yang persisten, termasuk status gizi masyarakat.

"Angka harapan hidup pada kelahiran di Indonesia masih berkisar 71 tahun, ini berdasarkan survei pada 2018. Angka itu masih lebih rendah dibandingkan Australia, Amerika, Asia Timur, dan Pasifik," kata dia saat hadir secara virtual dalam Launching SSGI Tingkat Nasional, Provinsi dan Kota/Kabupaten 2021 yang diikuti dari YouTube Kemenkes RI di Jakarta, Senin siang.

Dia mengatakan angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup masih 22 orang, sedangkan prevalensi tengkes yang merupakan salah satu penilaian status gizi di Indonesia kurang lebih 26 persen. Akan tetapi, angka itu masih berada di atas Myanmar, Malaysia, Brunei, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Pada 2019, kata dia, ada 50 provinsi yang memiliki prevalensi tengkes di atas rata-rata nasional sebesar 27,7 persen. Artinya, setengah dari anak-anak yang ada di provinsi tersebut menderita tengkes.

Dante mengatakan pada kurun 2018 dan 2019, Kemenkes melakukan evaluasi tengkes dengan laporan terjadi pergeseran kelompok usia dengan kasus tertinggi serta penurunan prevalensi pada kelompok usia lebih muda.

"Kalau kita lihat pada 2018, maka usia 'stunting' (tengkes) yang paling banyak berada di usia 12 sampai 23 bulan, tetapi pada 2019 menjadi 24 dan 35 bulan," katanya.

Baca juga: BKKBN fokus pada upaya pencegahan tengkes sejak dini

Di sisi lain, kata dia, kelompok usia 0-11 bulan mengalami penurunan dari tahun 2018 dan 2019.

"Ini harus mendapat perhatian dengan memperhatikan penurunan kelompok umur tersebut kita harus lakukan intervensi yang lebih akurat lagi," katanya.

Dante mengatakan secara umum tren status gizi di Indonesia membaik pada 2021 berdasarkan indikator angka "stunted" (kurus) menurun 24,4 persen. Akan tetapi, "underwight" (berat badan kurang) meningkat dari tahun 2019 ke 2021.

"Ini harus kita jadikan perhatian yang serius," katanya.

Angka "wasted" atau berat badan sangat kurang juga makin menurun sejak 2018 mencapai 10,2 persen menjadi 7,1 persen, sedangkan angka obesitas juga semakin menurun pada anak-anak dari 2018 dari delapan menjadi 3,8 persen dibandingkan dengan 2019.

Bali, DKI, Jakarta, dan Yogyakarta adalah provinsi dengan tingkat terendah untuk anak-anak berkategori "stunted". Bali, Bengkulu, dan Jawa Barat adalah provinsi dengan tingkat "wasted" yang terendah.

"Bali adalah provinsi dengan kategori 'stunted' ada di bawah 20 persen dan 'wasted' di bawah lima persen. Kita tahu bahwa capaian yang kita ingin raih adalah 20 persen untuk 'stunted' dan lima persen untuk 'wasted'," katanya.

Baca juga: BKKBN beri penghargaan daerah ciptakan inovasi turunkan tengkes

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes Nana Mulyana mengatakan studi status gizi Indonesia dilakukan di 34 provinsi di 514 kabupaten/kota dengan jumlah pengukuran berat badan balita sebanyak 153.228 peserta yang berasal dari 14 ribu blok sensus.

"Kita pahami betul bahwa salah satu masalah kesehatan masyarakat kita adalah yang terkait dengan gizi antara lain 'stunting'," katanya.

Studi status gizi 2021 yang diselenggarakan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia, merupakan kali pertama yang digelar saat masa pandemi COVID-19.

"Karena di tahun 2020 kita tidak bisa melakukan pengukuran, tapi kita bisa melakukan wawancara dan mengukur determinan lain, tapi pengukuran baru kita lakukan di tahun 2021," katanya.

Baca juga: Stunting dan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan
Baca juga: Gerakan melawan stunting dalam 2 tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel