Indonesia Masuk 10 Negara Penyumbang Terbesar Sampah Plastik di Laut

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Pencemaran plastik di laut semakin mengkhawatirkan. Studi terkini menunjukkan kebocoran sampah plastik ke laut mencapai 8 juta ton per tahun. Bahkan 5 dari 10 negara penyumbang terbesar kebocoran plastik berasal dari negara-negara di Asia Tenggara.

"Lima dari 10 negara penyumbang kebocoran plastik tersebut berasal dari Asia Tenggara termasuk Indonesia,"kata Teknikal Advisor Research Management UNDP Indonesia, Abdul Wahid Situmorang dalam Peluncuran Tas Belanja Guna Ulang secara virtual, Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Meski begitu, Abdul mengatakan saat ini pemerintah Indonesia mulai memberikan perhatian lebih dalam penanganan sampah plastik di laut. Tercermin dari dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2019 tentang Penanganan Sampah Laut.

Lahirnya regulasi tersebut membuat pemerintah daerah, pengusaha hingga masyarakat akar rumput mulai bergerak mendukung program pengurangan sampah plastik hingga 70 persen di tahun 2025. Hal terpenting dalam ini mengubah pandangan masyarakat untuk membuat sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi menjadi nilai yang efisien.

"Kita perlu dan harus apresiasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, KLHK dan lembaga lainnya yang tidak lelah untuk melakukan terobosan mengatasi ini," kata dia.

Tas Belanja Guna Ulang

Sampah termasuk sampah plastik terlihat saat pembersihan pantai Kuta dekat Denpasar di pulau wisata Bali, Indonesia (6/1/2021). Tahun 2021 baru berjalan, tapi masalah sampah kembali terjadi di Indonesia, terutama di Pantai Kuta di Badung, Bali. (AFP/Sonny Tumbelaka)
Sampah termasuk sampah plastik terlihat saat pembersihan pantai Kuta dekat Denpasar di pulau wisata Bali, Indonesia (6/1/2021). Tahun 2021 baru berjalan, tapi masalah sampah kembali terjadi di Indonesia, terutama di Pantai Kuta di Badung, Bali. (AFP/Sonny Tumbelaka)

Dalam hal ini, pemerintah bersama para pihak yang terlibat mengkampanyekan penggunaan tas belanja guna ulang. Konselor Kedutaan Norwegia, Bjornard Dahl menilai inovasi tersebut merupakan terobosan yang baik. Terlebih dampaknya bukan hanya untuk lingkungan tetapi juga pada sektor perekonomian nasional.

"Penggunaan tas pakai ulang perwujudan inovasi produk dan distribusi sebagai upaya merubah paradigma masyarakat dalam penggunaan plastik sekali pakai," kata Bjornard.

Selain itu, dia juga menghargai program ini karena melibatkan penyandang disabilitas sebagai pembuat tas guna ulang. Inisiatif ini juga menumbuhkan kesadaran sosial dan mendukung pelibatan usaha umkm dalam proses produksi tas guna ulang.

"Saya berharap kolaborasi dan inovasi ini sebagai usaha kita mengurangi sampah di laut," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com