Indonesia Masuk List of Shame PBB Akibat Tolak Resolusi Genosida

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York City - Indonesia masuk ke List of Shame (Daftar Aib) di PBB. Penyebabnya, Indonesia menolak mendukung resolusi untuk mencegah genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Indonesia memilih "No" pada voting yang berlangsung Selasa (18/5).

List of Shame itu dirilis oleh UN Watch yang mendukung HAM, melawan diktator, dan standar ganda.

Dalam daftar itu, Indonesia bersanding dengan China, Suriah, Korea Utara, Venezuela, Kirgizstan, Zimbabwe, Venezuela, Burundi, Belarusia, Eritrea, Bolivia, Rusia, Mesir, Kuba, dan Mesir.

Totalnya, ada 115 negara yang mendukung resolusi tersebut, seperti Finlandia, Australia, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Turki, Malaysia, Uni Arab Emirat, Yaman, Swiss, Thailand, dan lain sebagainya.

Ada pula negara yang memilih abstain seperti Singapura dan India.

Keputusan Indonesia ini mendapatkan antipati dari banyak netizen di Twitter. Salah satu kritikan berasal dari mantan anggota DPR dan Menpora Roy Suryo yang menyebut penolakan Indonesia merupakan hal yang "ambyar."

Menlu Retno Hadiri Majelis Umum PBB dan Fokus Bahas Isu Palestina

Menlu Retno Marsudi memimpin pertemuan virtual COVAX AMC Engagement Group (EG) Meeting ke-4 pada Senin (17/5). (Dok: Kemlu RI)
Menlu Retno Marsudi memimpin pertemuan virtual COVAX AMC Engagement Group (EG) Meeting ke-4 pada Senin (17/5). (Dok: Kemlu RI)

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi telah tiba di New York dalam agendanya menghadiri Majelis PBB yang akan fokus membahas isu Palestina dan Israel belakangan ini.

Selain itu, seperti tertuang dalam Twitter @Menlu_RI tertanggal 19 Mei 2021, Menlu Retno juga menyebutkan bahwa ia pun akan menemui Sekjen PBB Antonio Guterres, Presiden Majelis Umum PBB Volkan Bozkir dan sejumlah Menteri Luar Negeri yang juga turut hadir.

Sejauh ini, PBB terus mendesak negara konflik untuk segera meredakan ketegangannya. PBB juga terus menyampaikan keprihatinannya atas konflik yang terpaksa menewaskan banyak nyawa, termasuk perempuan dan anak-anak.

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel