Indonesia Melawan, Dubes Inggris Diminta Intervensi NHS

Ridho Permana, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia, Desra Percaya angkat bicara mengenai Tim bulutangkis Indonesia dipaksa mundur dari All England Open 2021. Menurut Destra, melalui keterangannya dari KBRI London, mengatakan pihaknya telah menyampaikan protes.

Protes itu terkait diskriminasi dan bentuk ketidakadilan panitia penyelenggara karena para atlet termasuk kontingen lainnya karena harus menjalani isolasi mandiri setelah ketahuan satu pesawat dengan penumpang yang positif COVID-19.

"Di saat yang sama, Dubes RI sudah lakukan kontak langsung kepada Dubes Inggris di Jakarta, Owen Jenkins dan meminta agar beliau lakukan intervensi ke otoritas kesehatan Inggris (NHS)," kata Desra dalam keterangannya, Kamis 18 Maret 2021.

Kata Desra, pihaknya terus berkomunikasi dengan otoritas Inggris mengenai hal ini. Termasuk mendorong, kemungkinan para atlet mengikuti turnamen bergensi tersebut.

Sebagai gambaran juga, KBRI London juga menyampaikan, bahwa saat ini, negara monarki yang dipimpin Ratu Elizabeth II itu masih menerapkan karantina wilayah dari segala kegiatau dan tempaf atau lockdown di sejumlah tempat.

"Opsi kemungkinan dilakukan tindakan yang mungkinkan atlet Indonesia lanjutkan kompetisi di All England," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali menyuarakan keadilan untuk para atlet. Ia menyebut, bahwa BWF tidak bisa lepas tangan atas kasus ini. Meskipun, soal aturan COVID-19 diatur oleh pemerintahan Inggris.

"Harusnya pihak penyelenggara, BWF bisa melihat lebih objektif apa yang terjadi. Apalagi ada informasi bahwa ada orang atau atlet bulutangkis dari negara lain berada di pesawat yang sama dengan tim bulutangkis Indonesia tetap diperbolehkan main," ujar Amali saat konferensi pers via zoom, Kamis 18 Maret 2021.

Amali juga mempertanyakan, penerbangan itu harus tentu sudah menerapkan sistem protokol kesehatan yang ketat. Namun, ketika ada pemain lain yang boleh berlaga, sementara Indonesia tidak tentu tidak adil bagi Indonesia.

"Saya memahami perasaan teman-teman bulutangkis Indonesia diperlakukan tidak adil. Hal lain yang saya respons, penerbangan itu kan sudah menerapkan sistem yang ketat terhadap semua penumpang yang menggunakan maskapai itu. Tapi ada satu orang yang kedapatan terindikasi positif COVID-19, akhirnya berdampak pada tim kita," ucapnya.