Indonesia perlu komite vokasi untuk sinergi dunia usaha

Faisal Yunianto

Indonesia perlu memiliki lembaga semacam komite vokasi yang dapat mengarahkan pendidikan vokasi di berbagai daerah agar dapat lebih bersinergi dengan dunia usaha nasional, kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian.

"Di negara maju biasanya ada komite vokasi untuk menentukan arah pendidikan vokasi itu seperti apa," kata Hetifah Sjaifudian dalam rilis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut Hetifah Sjaifudian, bentuk dan struktur kelembagaan Indonesia dinilai masih tertinggal untuk dapat menangani berbagai permasalahan yang ada terkait dengan vokasi.

Baca juga: Pendidikan vokasi BLK dinilai solusi tenaga siap pakai industri

Untuk itu, ujar dia, pihaknya beranggapan perlu adanya jembatan yang menghubungkan antara kepentingan dunia edukasi atau pendidikan vokasi, dengan kepentingan dunia usaha.

Politisi Golkar itu berpendapat bahwa dunia pendidikan idealnya tidak hanya menciptakan para pekerja, namun harus bisa menjadi pencipta lapangan kerja.

"Lapangan usaha harus ada yang menciptakan dan SDM kita harus juga ada yang dilatih untuk itu. Tidak harus skala besar, yang penting bisa berjalan dan bertahan," ucapnya.

Baca juga: Indonesia-Singapura bangun kerja sama pendidikan vokasi di pesantren

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo mengatakan pendidikan vokasi, yang diajarkan Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai daerah dinilai merupakan solusi tepat dalam menciptakan tenaga kerja siap pakai untuk industri di Tanah Air.

"Pendidikan informal dan vokasi melalui BLK menjadi solusi dalam menciptakan tenaga kerja siap pakai di berbagai industri," katanya.

Rahmad mengingatkan Presiden Joko Widodo telah berulang kali mencanangkan program pembangunan SDM sehingga pengembangan vokasi melalui BLK selaras dengan visi Kepala Negara.

Baca juga: Kemenperin bimbing tenaga pelatih siswa magang di industri

Politisi PDIP itu berpendapat BLK bisa menjadi lokomotif untuk menciptakan kader bangsa yang bersiap mandiri dalam membangun wirausaha dan juga sebagai pekerja. Dari data, lanjutnya, sekitar 40 persen lulusan BLK diserap dunia industri.

Jumlah itu, ujar dia, merupakan hal yang sudah cukup baik, karena sisanya bisa didorong dan disiapkan untuk menjadi wirausahawan baru.

"Banyak juga lulusan BLK ini yang mendirikan usaha bengkel sendiri dan usaha percetakan bagi yang belajar desain grafis," jelas Rahmad Handoyo.

Baca juga: Pemerintah genjot vokasi penuhi daya saing tenaga kerja