Indonesia Produksi Limbah Plastik 66 Juta Ton per Tahun, Apa Solusinya?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sampah plastik masih menjadi masalah yang sukar dipecahkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 menyebutkan limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2018 memperkirakan sekitar 0,26 juta-0,59 juta ton plastik ini mengalir ke laut.

Indonesia pun dinobatkan sebagai negara penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jambeck pada tahun 2018.

Kondisi mengkhawatirkan ini berusaha dientaskan oleh Pemerintah Indonesia melalui Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) yang menargetkan penurunan 70 persen total sampah laut Indonesia pada tahun 2025. Eksekusi RAN PSL dijalankan oleh Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) yang dikomandoi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Di tahun 2021 ini, UNDP Indonesia melalui project Sekretariat TKN PSL dan Archipelagic and Island States (AIS) Forum menggelar Ending Plastic Pollution Innovation Challenge(EPPIC), sebuah kompetisi di tingkat ASEAN yang mengajak para inovator untuk berbagi ide cemerlang dalam menangani polusi plastik.

Sepuluh finalis terpilih, dari berbagai negara seperti Indonesia, Singapura, dan Vietnam, pada kompetisi ini akan mengikuti sesi Inkubasiyang diadakan dari Oktober hingga Desember 2021.

Salah satu agenda dalam tahap Inkubasiini adalah kunjungan lapangan selama empat hari (1-4 November 2021) ke Mandalika, NusaTenggara Barat (NTB), di mana finalis dapat mengamati secara langsung situasi pencemaranplastik di wilayah tersebut, dan menguji apakah inovasi mereka dapat menjawab permasalahanpolusi plastik di Mandalika.

“Dari target pengurangan 70 persen sampah laut di tahun 2025, kita sudah berhasil mengurangi sebesar 15,3 persen pada tahun 2020. Sebagai bagian dari strategi RAN PSL yaitu mendoronggerakan untuk melibatkan publik dalam melahirkan inovasi penanganan sampah plastik di lauttermasuk melalui kerja sama dengan berbagai pihak dalam pelaksanaannya di mana salahsatunya dengan mengadakan kompetisi EPPIC. Penyelenggaraan EPPIC diharapkan dapatmemberikan ide-ide inovatif yang teruji di lapangan, sehingga dapat direplikasi dan digunakansecara luas di Indonesia nantinya,” ujar Project Coordinator Sekretariat TKNPSL, UNDP Ahmad Bahri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (9/11/2021).

EPPIC menargetkan untuk mengurai masalah sampah pencemaran plastik di wilayah pesisir.Selama kunjungan, finalis akan membuat pemetaan, sketsa bisnis, pengambilan keputusan,peluncuran prototipe, dan pengujian.

Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nusa Tenggara Barat (DLHK NTB), peneliti, organisasi kemasyarakatan, pegiat lingkungan hidup,dan komunitas peduli lingkungan sebagai pemateri sekaligus pendamping.

Mandalika, sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas, dipilih karena potensi peningkatan volume sampah dari pembangunan infrastruktur dan aktivitas wisata yang terus bertumbuh sangat besar. Sejumlah lokasi seperti Pusat Pengolahan Sampah Batu nyala, landfillPengengat, dan Sirkuit Internasional Mandalika telah dikunjungi sebagai sarana studipengolahan sampah pada fasilitas-fasilitas tersebut.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Gandeng Komunitas Lokal

Ilustrasi Limbah Plastik Credit: pexels.com/mali
Ilustrasi Limbah Plastik Credit: pexels.com/mali

Kunjungan tersebut juga dilengkapi dengan diskusi bersama komunitas lokal seperti Plastik Kembali, Bank Sampah NTB Mandiri, dan Geo Trash Management yang juga akan menambah pengetahuan finalis yang lebih mendalam untuk memahami konteks kedaerahan dalam menyusun perencanaan pengelolaan sampah plastik yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para inovator yang turut serta ke Mandalika mempunyai produk-produk yang berorientasi pada bisnis dan keberlanjutan lingkungan.

Pada jasa pengelolaan sampah di tingkat komunitas, terdapat tim Gringgo, Rekosisten, dan Bintang Sejahtera. Ada pula inovator yang menciptakankemasan ramah lingkungan pengganti plastik yaitu Alterpack, EQUO, Evo & Co, dan Plepah.Beberapa lainnya mempunyai misi yang sama untuk mengurangi sampah laut danmenjadikannya nilai tambah.

“Potensi pariwisata di NTB itu sangat besar, terutama di Mandalika. Kita ingin pariwisata NTBnaik kelas. Salah satu caranya adalah mengatasi sampah plastik ini. Maka dari itu kami sangatberterima kasih sekali dengan kompetisi EPPIC. Kami berharap ide-ide para inovator dapatsegera kami jalankan,” ujar Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi NTB Baiq Eva Nurcahya Ningsih,.

Kompetisi EPPIC diharapkan dapat menelurkan ide-ide yang dapat menguatkan ekonomi sirkular produk plastik di Indonesia. Selain itu, pemenang dari kompetisi diharapkan dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan-kegiatan ini, serta berjejaring dengan penggiat sampah plastik lainnya baik di wilayah Indonesia, maupun ASEAN.

“Kami mengajak semua finalis untuk terus berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan dan pengurangan sampah plastik di alam. Dengan dukungan dari banyak pihak, utamanya pemerintah, masyarakat, dan organisasi internasional, kami yakin EPPIC dapat membantumenguraikan masalah serta membantu mengurangi sampah di laut secara signifikan," tutup Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel