Indonesia Resesi Ekonomi, Apa Dampak Langsung buat Masyarakat?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen yang membuat Indonesia masuk ke jurang resesi ekonomi. Sebelumnya pada kuartal II-2020 juga mengalami kontraksi sebesar 5,23 persen.

Mengacu pada data tersebut, Peneliti Indef, Bhima Yudhistira menilai Indonesia resmi mengalami resesi. Resesi ekonomi ini tentunya akan berdampak langsung bagi masyarakat.

Bhima menjabarkan, dampak langsung yang akan terasa yaitu turunnya pendapatan kelompok masyarakat kalangan menengah dan bawah secara signifikan. Sehingga jumlah orang miskin baru akan bertambah.

"Turunnya pendapatan di kelompok masyarakat menengah dan bawah secara signifikan. (Sehingga) akan ada orang miskin baru," kata Bhima di Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Bhima melanjutkan, akibat resesi ekonomi ini, desa akan jadi tempat migrasi pengangguran. Mereka datang dari kawasan industri karena gelombang PHK massal.

Angkatan kerja baru pun makin sulit bersaing. Sebab lowongan pekerjaan menurun. Sisi lain jika ada perusahaan mencari pekerja baru akan memprioritaskan karyawan lama yang sudah berpengalaman.

"Perusahaan kalaupun lakukan recruitment akan prioritaskan karyawan lama yang sudah berpengalaman," kata dia.

Dalam kondisi ini, masyarakat pun cenderung berhemat. Mereka akan menahan diri untuk membeli barang sekunder dan tersier.

Fokus masyarakat hanya pada barang kebutuhan pokok dan kesehatan. Lebih jauh, konflik sosial di masyarakat bisa meningkat karena ketimpangan semakin lebar.

"Orang kaya bisa tetap survive selain karena aset masih cukup juga karena digitalisasi," kata dia.

Sementara kelas menengah rentan miskin. Sebab tidak semua pekerjaan mereka dapat dilakukan di rumah. Di saat yang bersamaan pendapatan menurun.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Indonesia Resesi, Pengangguran Bertambah 2,67 Juta Orang

Pejalan kaki melintasi lajur penyebrangan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23//9/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020. Kondisi ini akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga PHK. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Pejalan kaki melintasi lajur penyebrangan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23//9/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020. Kondisi ini akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga PHK. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sektor ketenagakerjaan masih terdampak akibat pandemi Covid-19. Hingga Agustus 2020, jumlah pengangguran di seluruh Tanah Air bertambah sebanyak 2,67 juta orang menjadi total 9,77 juta orang.

Namun demikian, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyampaikan, terdapat tiga sektor yang tetap menyerap jumlah tenaga kerja paling banyak. Ketiga sektor itu yakni pertanian (29,76 persen), perdagangan (19,23 persen), dan industri pengolahan (13,61 persen).

"Ada tiga sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, yaitu pertanian, perdagangan dan industri pengolahan," kata Suhariyanto dalam sesi teleconference, Kamis (5/11/2020).

Menurut dia, pandemi Covid-19 turut menimbulkan pergeseran di sisi permintaan (demand) pada ketiga sektor tersebut. Pertanian mengalami pergeseran demand sebesar 2,23 persen, sementara perdagangan sebesar 0,46 persen.

"Kemudian untuk perdagangan eceran 0,48 persen. Untuk jasa lainnya tipis, demikian jasa kesehatan dan informasi komunikasi," ungkap Suhariyanto.

Sebagai catatan, per Agustus 2020 terdapat penduduk usia kerja sebanyak 203,97 juta orang. Jumlah angkatan kerja mengalami pertambahan sebanyak 2,36 juta orang, sehingga total penduduk bekerja sebanyak 128,45 juta orang.

"Pengangguran masih didominasi di perkotaan atau sebesar 8,98 persen dibanding pedesaan 4,71 persen," tukas Suhariyanto.

Saksikan video di bawah ini: