Indonesia Resmi Resesi Ekonomi Malah Bikin IHSG Hari ini Meroket

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia ditutup menghijau di level 5.260, pada penutupan perdagangan Kamis 5 November 2020. Posisi itu menguat 155 poin atau 3,04 persen, dibanding penutupan perdagangan Rabu 4 November 2020 di level 5.105.

Analis PT Garuda Berjangka, Ibrahim menjelaskan, fenomena meroketnya IHSG meskipun BPS baru mengumumkan resesi karena adanya perbaikan pada perekonomian nasional, walaupun masih terkontraksi minus dua kuartal berturut-turut.

"Informasi resesi ini sudah diketahui sebelumnya, sehingga pelaku pasar tidak terlalu kaget mendengarnya, bahkan siap untuk menghadapinya," kata Ibrahim saat dihubungi VIVA, Kamis 5 November 2020.

Baca juga: Terdampak COVID-19, Rata-rata Gaji Pegawai dan Buruh Turun

Ibrahim menjelaskan, meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga masih terkontraksi, namun hal itu masih menunjukkan perbaikan. Menurutnya, bukan tidak mungkin ekonomi akan berbalik positif, jika performa ini bisa dipertahankan dan pemerintah provinsi tidak menerapkan PSBB Total.

"Ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi nasional dan pembalikan arah atau turning point dari aktivitas ekonomi nasional menunjukkan arah zona positif," ujar Ibrahim.

Karenanya, Ibrahim pun berharap bahwa dalam kurun kuartal keempat ini, Pemprov bisa tetap mempertahankan masa PSBB-Transisi sampai pemerintah mendistribusikan vaksin di awal Desember 2020.

"Sehingga ada harapan PSBB-Transisi berubah menjadi New Normal, dan masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa, berdampingan dengan COVID-19 dengan selalu mencuci tangan, menjaga jarak, serta memakai masker," ujarnya.

Diketahui, pada perdagangan hari ini, IHSG secara sektoral mengalami peningkatan di seluruh sektor. Sektor infrastruktur naik paling tinggi mencapai 4,67 persen, diikuti sektor keuangan 4,31 persen dan sektor industri dasar 3,8 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp711,04 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 838.592 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,64 miliar lembar saham senilai Rp9,9 triliun. Sebanyak 320 saham tercatat naik, 140 saham menurun, dan 150 saham stagnan. (ren)