Indonesia selaraskan agenda G20 dengan Global Crisis Response Group

Indonesia selaku Presidensi G20 dan juga anggota Global Crisis Response Group (GCRG) menyelaraskan isu-isu prioritas G20 dengan pembahasan dalam GCRG.

“Indonesia diminta menyeleraskan agenda di G20, G7 yang akan melakukan Summit tanggal 27 ini dengan juga GCRG,” kata Co-sous Sherpa G20 Indonesia Ferry Ardiyanto dalam UI International Conference on G20 di Jakarta, Rabu.

Ferry menyampaikan PBB menunjuk Indonesia sebagai champion GCRG bersama dengan 5 negara lain yakni Senegal, Denmark, Jerman, Barbados dan Bangladesh.
Pembentukan GCRG bertujuan untuk mengadvokasi dan memfasilitasi konsensus global terhadap aksi-aksi untuk menghindari, memitigasi, dan merespons dampak krisis pangan, energi dan sistem keuangan terutama untuk negara-negara rentan.

Melalui GCRG, lanjutnya, diharapkan adanya kepemimpinan politis dan koordinasi tingkat politis karena situasi dan kondisi yang tidak terduga dampak beresiko pada depresi global khususnya negara berkembang akibatnya ada kenaikan energi dan pangan, kenaikan inflasi global, volatilitas pasar keuangan global, disrupsi rantai pasok dan penurunan prospek penurunan ekonomi global.

PBB mengharapkan peranan penting Indonesia dalam G20 untuk berkolaborasi memastikan ketahanan pangan dan nutrisi global yang berkelanjutan.

Ferry menuturkan kepercayaan PBB tersebut merupakan wujud kepercayaan dan keyakinan dunia terhadap kepemimpinan global Indonesia selama ini dan Indonesia tentu akan menjalankan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Baca juga: Sherpa GCRG bahas pentingnya kolaborasi atasi krisis global

“Namun kami memerlukan juga dukungan dari semua pihak termasuk civitas akademika untuk dapat memberikan rekomendasi dan alignment dari isu-isu prioritas G20,G7 dan GCRG,” ujarnya.

Kolaborasi dan sinergi antara Presidensi G20 dan GCRG diwujudkan dalam beberapa kolaborasi pembahasan. Pertama, pembahasan Agriculture Deputies Meeting (ADM) G20 dan GCRG. Sekjen PBB pada Forum GCRG mendorong adanya package deals untuk kelancaran pasokan pangan dari Ukraina dan pupuk dari Rusia.

Negara G7 telah meluncurkan inisiatif untuk mengatasi krisis pangan antara lain berupa bantuan finansial dan kerja sama dengan Bank Dunia dalam membentuk Global Alliance of Food Security.

Kedua, pembahasan Energy Transitions Working Group (ETWG) G20 dan GCRG. Presidensi G20 Indonesia dimanfaatkan untuk mengenalkan skenario Indonesia mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Sedangkan negara Anggota G20 dan undangan berfokus pada sumber pendanaan untuk investasi pada transisi energi ke energi terbarukan dan memastikan tidak terjadi ketimpangan dalam mekanisme pendanaan.

Ketiga, pembahasan terkait isu Keuangan (Finance Track) dalam G20 dan GCRC. Senegal menyampaikan perlunya penangguhan debt service dan pembahasan pilot project dalam G7 dan G20.

Sekjen PBB mendorong adanya review atas G20 Common Framework for Debt yang dinilai tidak efektif, serta mendorong International Finance Institutions untuk merespons cepat kebutuhan finansial negara berkembang. Antara lain terkait fleksibilitas dan peningkatan limit pinjaman, serta penerapan Resilience and Sustainable Trust (RST).

Baca juga: GCRG: 1,2 miliar penduduk dunia sangat rentan terhadap krisis global

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel