Indonesia Tawarkan Mega Proyek 10.000 Ha Lahan Mangrove di UEA

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengutus anak buahnya ke Dubai menemui Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Uni Emirat Arab (UEA), Abdullah Mohammad Bel Haif Al Nuaimi.

Sebagai Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti ditugaskan Luhut untuk membahas program rehabilitasi mangrove Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Nani menawarkan ratusan jenis mangrove yang ada di Indonesia. Sebab, UEA hanya memiliki satu jenis mangrove yakni Avicenna Marina atau biasa disebut dengan gray mangrove.

Nani menjelaskan ada ratusan spesies mangrove dari Indonesia yang bisa digunakan sebagai upaya rehabilitasi dan konservasi mangrove di UEA. Secara alami mangrove berfungsi sebagai pelindung bagi pantai dari gelombang besar.

"Secara alami, mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang besar," kata Nani dalam keterangannya di Dubai, Jakarta, Sabtu, (31/10).

Selain itu, mangrove juga berfungsi menyerap karbon dan penghasil oksigen. Bahkan mangrove juga sebagai tempat berlindung dan pemijahan ikan.

Sehingga kata Nani, kerja sama pengembangan rehabilitasi mengrove antara Indonesia dan UEA penting bagi kedua negara.

"Kerja sama ini menjadi sangat penting dan urgent bagi kedua belah pihak," sambung Nani.

Kepada Abdullah, Nani mengusulkan pengembangan mega proyek mangrove minimal seluar 10 ribu hektar. Implementasi ini diharapkan bisa terwujud hanya dalam waktu 4 tahun.

Menanggapi itu, Abdullah memberikan apresiasi kepada Indonesia. Dia mengaku kagum dengan Indonesia yang memiliki potensi alam yang besar. Sehingga dia sepakat untuk melanjutkan hubungan baik Indonesia-UEA.

Sebagai informasi, pada Februari 2020 lalu, kedua belah pihak telah menyusun Nota Kesepahaman (MoU) terkait kerja sama tersebut. Mereka telah menyepakati area kerja sama di bidang pengelolaan dan rehabilitasi mangrove. Termasuk kajian pengembangan ekosistem mangrove dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Indonesia Butuh Rp 16 Triliun Tanam Mangrove di 600 Ribu Hektar Lahan

Hutan mangrove. Kementerian KKP
Hutan mangrove. Kementerian KKP

Pemerintah Indonesia sepakat akan melakukan penanaman mangrove seluas 600 ribu hektar dalam waktu 4 tahun.

Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengutus salah satu deputinya ke Abu Dhabi dan Eropa mencari investor dalam program ini.

"Deputi saya, Bu Nani, akan ke Abu Dhabi dan saya minta juga lobi di Eropa untuk bantu investasi," kata Luhut dalam siaran persnya, Jakarta, Jumat (23/10/2020).

Luhut menjelaskan untuk merealisasikan program penanaman mangrove tersebut dibutuhkan investasi Rp 16 triliun. Besarnya nilai investasi ini akan berdampak lebih luas di masa yang akan datang.

"Kalau 600 ribu hektar kira-kira (investasinya) hampir Rp 16 triliun, dengan angka yang besar dampaknya juga akan besar. Makanya kita jangan kerja tanggung-tanggung," kata Luhut.

Saat ini Indonesia memiliki 3,31 juta hektar lahan mangrove. Luas ini termasuk 30 persen di dunia dan 42 persen di Asia. Bahkan, cerita Luhut, Abu Dhabi takjub dengan Indonesia yang memiliki 126 spesies mangrove. Sebab, negara timur tengah itu hanya memiliki satu spesies mangrove yang ada di Indonesia.

Berdasarkan data dalam rapat koordinasi pengelolaan ekosistem mangrove, Pulau Cemara telah menjadi fokus penanaman mangrove. Penanaman telah dilakukan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) pada tahun 2019. Lalu KKP pada September 2020 juga melakukan penanaman Mangrove di lokasi yang sama.

Untuk itu, dia meminta semua pihak mendukung program penanaman mangrove di wilayah Indonesia. "Karena itu saya mohon agar bapak/ibu dukung program mangrove ini. Mari kita kompak, mari kita saling mendukung untuk membuat Indonesia lebih bagus lagi ke depan," kata Luhut mengakhiri.

Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: