Indonesia Terima Vaksin Johnson & Johnson dari Belanda September 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia akan menerima vaksin Johnson & Johnson pada September 2021. Rencana kedatangan vaksin berasal dari hibah Pemerintah Belanda.

"Kita akan kedatangan Johnson & Johnson dari Belanda. Ini hibah ya, yang harusnya akan datang, tergeser ke bulan depannya," ujar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta pada Rabu, 25 Agustus 2021.

"Itu kan vaksin yang hanya cukup disuntik satu kali."

Selain itu, rencana kedatangan Novavax juga bergeser ke bulan Oktober 2021. Ini karena vaksin tersebut belum memeroleh izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

"Risiko paling tinggi ada di Novavax. Rencananya, kami akan mulai menerima di bulan Agustus, tetapi sekarang bergeser, karena Novavax di Amerika belum mendapatkan Emergency Use Authorization dari FDA," terang Budi Gunadi.

"Jadi, kami geser (kedatangan) ke bulan Oktober ini. Transaksi dengan Novavax dilakukan oleh Indofarma dengan Serum Institute of India."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Kedatangan Belum Pasti Vaksin COVID-19 dari COVAX-GAVI

Botol vaksin COVID-19 terlihat sebelum dikemas di Serum Institute of India, Pune, India, Kamis (21 Januari 2021). Serum Institute of India adalah pembuat vaksin terbesar di dunia dan telah dikontrak untuk memproduksi miliar dosis vaksin AstraZeneca-Oxford University. (AP Photo/Rafiq Maqbool)
Botol vaksin COVID-19 terlihat sebelum dikemas di Serum Institute of India, Pune, India, Kamis (21 Januari 2021). Serum Institute of India adalah pembuat vaksin terbesar di dunia dan telah dikontrak untuk memproduksi miliar dosis vaksin AstraZeneca-Oxford University. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, ada juga kedatangan vaksin COVID-19 yang masih belum dapat dipastikan. Yakni dari skema kerja sama dengan COVAX-GAVI (tidak disebut nama merek vaksinnya).

"Angka yang belum pasti juga biasanya dari COVAX-GAVI. Ini kerja sama multilateral, karena mereka biasanya baru ngasih tahu sekitar seminggu sebelum dikirim atau tiga hari sebelum dikirim," ujarnya.

"Itu memberikan kita agak kesulitan dalam melakukan planning (rencana) yang lebih baik."

Adapun pola kedatangan vaksin COVID-19 biasanya lebih banyak datang di akhir bulan, sehingga proses penyuntikan agak sulit kita mengejar dilakukan.

"Biasanya carry-over ke bulan berikutnya. Ini juga menggambarkan bahwa jumlah dan jenis vaksin yang datang sudah cukup beragam. Nanti memang membutuhkan seni sendiri, bagaimana kita bisa mengatur vaksinasi yang dilakukan dengan benar," pungkas Menkes Budi.

"Di bulan Agustus ini saja, datang Pfizer, AstraZeneca, Sinovac. Jadi, kita harus menyuntikkan tiga jenis vaksin ini."

Infografis Bila Data Salah dan Belum Dapat Sertifikat Vaksin Covid-19

Infografis Bila Data Salah dan Belum Dapat Sertifikat Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Infografis Bila Data Salah dan Belum Dapat Sertifikat Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel